Komunitas
Saudara Tua Komunitas Metal Jambi
METAL itu nyata, apa adanya dan tanpa basa-basi. Nilai tersebut yang membuat Dedeng jatuh cinta pada metal.
Penulis: Jaka Hendra Baittri | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM - METAL itu nyata, apa adanya dan tanpa basa-basi. Nilai tersebut yang membuat Dedeng jatuh cinta pada metal. Ia kemudian ikut dalam komunitas Jambi UnderGround yang berdiri pada 1997. Namun bibit underground Jambi yang berisi sekitar 50 band ini mulai goyah dan akhirnya pecah akibat perbedaan idealisme.
"Dari sana terbentuklah GrindTAC karena mereka punya markas di TAC dan Jambi Corpse Grinder (JCG)," kisah Dedeng saat berbincang dengan Tribun di halaman rumahnya yang berlokasi Kawasan lorong Damai di Sungai Sawang. Dedeng dan kawan-kawan punya alasan sendiri mengapa menggunakan nama Corpse Grinder.
"Kalau GrindTAC dibelakangnya dikasih TAC karena memang mereka tinggal di TAC. Tapi kalau kita sebenarnya karena waktu itu musik kita lebih mengarah ke Grindcore," jelasnya.
Anak-anak underground pada waktu itu banyak terpengaruh oleh Sepultura, Napalm Death , Suffocation dan Kreator. Lewat zine JCG yang awalnya bernama Ejakulated kemudian berubah menjadi infusion hope, JCG menyebarluaskan informasi mengenai band-band underground luar negeri.
"Waktu itu belum ada misi seperti Manjasad, band Bandung yang lirik-liriknya berbahasa Sunda. Kita murni ingin menyebarkan musik metal dulu," ujarnya.
Sejak 1998 itu hingga 2004 JCG ditopang oleh 5 band; Indemnity, Belzebul, Disobey dan Sakrator tempat Dedeng bernyanyi.
"Namun kemudian pecah batu masuk Bariton Minor," ungkapnya sembari menyeruput kopi.
Sejak 2004, Jon salah seorang anggota mengatakan band-band di JCG mulai vakum. Salah satu faktornya adalah kesibukan masing-masing.
"Juga udah banyak yang kerja," imbuh Dedeng.
Meski pun begitu visi awal JCG masih tetap khusyuk dijalankan pemuja musik keras ini. "Memasyarakatkan musik underground," ungkapnya.
JCG juga membikin zine, merchandise dan baju untuk menghidupi komunitas ini. Meski begitu mereka mengaku tidak ada mengatur dalam komunitas tersebut.
"Jambi Corpse Grinder tak punya ketua. Kita jalan dengan kesepakatan bersama saja, kayak bikin event kemarin. Lagi kumpul-kumpul ada yang ngajak, pada setuju ya kita kerjain," terang Dedeng sembari tertawa.
Meski pun band-band di JCG sudah tak lagi aktif namun mereka masih tetap sering berkumpul, di rumah Dedeng sebagai markas mereka. Di situ juga baju dan merchandise mereka produksi.
Saat ini, menurut Dedeng pecahan dari komunitas underground semakin banyak. Itu terjadi pada periode 2000 ke atas. "Seperti Grindsick dan yang lain itu baru, mereka juga sering main ke sini kok buat sharing dan main bareng," ujarnya.
JCG juga beberapa kali sempat membuat event, seperti event Agustus ini dan 2012 lalu. "Dulu pernah bikin acara namanya Gudang Asap Siang Bolong. Itu event underground outdoor pertama di Jambi," kenangnya sembari tersenyum.
Berdasar kecintaannya pada musik metal-lah Dedeng terus menghidupkan JCG. "Semoga musik metal ke depannyo lebih biso dinikmati dan disukoi banyak kalangan mudo sampai tuo," ungkap Vokalis Sakrator itu.



