Jelajah Kuliner

Cita Rasa di Balik Pesona Bukit

NAMA Lempur agaknya tak asing di telinga warga Jambi. Desa yang menjadi bagian Kecamatan Gunung Raya Kabupaten Kerinci ini

Penulis: Frima Ayu Septya | Editor: Fifi Suryani
Cita Rasa di Balik Pesona Bukit - DENDENG3.jpg
TRIBUNJAMBI/ALDINO
Cita Rasa di Balik Pesona Bukit - DENDENG.jpg
TRIBUN JAMBI/ALDINO
Cita Rasa di Balik Pesona Bukit - DENDENG2.jpg
TRIBUN JAMBI/ALDINO

TRIBUNJAMBI.COM - NAMA Lempur agaknya tak asing di telinga warga Jambi. Desa yang menjadi bagian Kecamatan Gunung Raya Kabupaten Kerinci ini merupakan penghasil beras Payo ternama. Pesona lain dimiliki Lempur yakni Danau Kaco yang sudah seperti harta karun raksasa bagi para backpacker. Walau memakan waktu perjalanan lebih satu jam dari kota Sungai Penuh melewati perbukitan dan pinggiran Danau Kerinci, agaknya tak terlalu berat bagi penikmat desa ini. Kekayaan alam yang dimiliki dirasa semakin lengkap ketika kita berkesempatan menikmati kuliner desa tersebut.Dendeng Batokok. Kuliner inilah yang didekatkan oleh Kiki bersama keluarganya ke hadapan penggila Dendeng Batokok di Kota Jambi melalui Rumah Makan Pusako 6 Stevy.

DAGING olahan berbentuk pipih sekilas terkenal sebagai kuliner khas Minangkabau. Tak heran, wilayah Kerinci juga diriwayatkan Tambo Minangkabau sebagai wilayah rantau negeri tersebut.

Walau sama berbahan dasar daging sapi, perbedaan tampak dari teknik pengolahan. Dendeng batokok Minangkabau diketahui menggunakan teknik penggorengan, sementara kekhasan dendng Kerinci yakni ketika potongan daging tersebut dipanggang.

Kekayaan kuliner tradisi masyarakat tersebut juga terdapat perbedaan cara mengolah di tiap daerahnya. Citarasa dendeng rumah makan di Jalan Sumatera Perumnas Kotabaru ini lebih gurih lembab dibanding dendeng rumah makan lain. Dijelaskan Suhatri, Ibunda Kiki, hal ini menandakan teknik memasak yang berbeda.

“Kalau di daerah lain, kebanyakan dendeng dibumbui baru dipanggang, kalau di Lempur dendeng dibumbui dan direbus,” terang Suhatri. Bumbu-bumbu dasar layaknya daun salam, laos, serai hingga jahe berperan penting mengisi rasa daging nantinya.

Harjono yang turut mengelola rumah makan tersebut juga mengungkapkan dendeng direndam di dalam air kelapa agar rasa bumbu dan daging tetap meresap dan kekhasan daging tidak hilang. “Kalau pakai air kelapa, rasa daging tidak hilang dan anyir,” terangnya saat diwawancaraiTribun di dapurnya, Sabtu (16/8).

Setelah proses perebusan, daging ditumbuk (tokok) melalui tekanan tersendiri. Daging rebus yang lembut tak perlu ditumbuk keras. Tekanan tertentu tumbukan tersebut disesuaikan bentuk daging yang biasanya disusun petak.“Ketebalannya gak bisa sembarangan, satu daging takarannya sama, kalau berlebih tak bentuk petak dipotong, lalu ditempelkan ke daging utama,” terang Suhatri.
Proses terakhir yang tak kalah penting yakni pembakaran dendeng. Diatas batok kelapa yang dibakar, dendeng diletakkan. Tak lupa dendeng dilumuri minyak bercampur bawang untuk menyempurnakan cita rasa dendeng tersebut. Usai dipanggang dendeng disajikan disertai saus cabai asam dan sambal cabai hijau.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved