Young Ster

Sukses Berkreasi Dari Bahan Terbuang

DENGAN adanya ciri khas, sebuah daerah akan lebih mudah dikenal dan diingat.

Penulis: wahid | Editor: Fifi Suryani
Sukses Berkreasi Dari Bahan Terbuang - ISTIMEWA2.jpg
Ist
Sukses Berkreasi Dari Bahan Terbuang - MIRA.JPG
TRIBUN JAMBI/WAHID NURDIN
Sukses Berkreasi Dari Bahan Terbuang - ISTIMEWA.JPG
Ist

TRIBUNJAMBI.COM - DENGAN adanya ciri khas, sebuah daerah akan lebih mudah dikenal dan diingat. Dibanding beberapa provinsi di Indonesia, Jambi bisa dibilang masih belum memiliki identitas yang menonjol. Beberapa hal coba dimunculkan, seperti batik Jambi. Namun kehadirannya masih kalah pamor dibanding batik dari Jawa yang memiliki beragam motif dan pilihan harga. Itulah yang menginspirasi Trias untuk membuat ikon Jambi dalam sebuah kerajinan tangan.


Bersama keempat kawannya, perempuan bernama lengkap Trias Ningsih Sutrisno ini mengkreasikan cindera mata dengan bahan yang identik dengan Jambi. Dengan begitu, ia berharap perlahan-lahan ciri khas Jambi yang sudah ada lebih familiar dan disukai.

"Selama ini orang yang datang masih sulit menemukan apa yang khas dari Jambi. Mereka paling tahu tempoyak, tapi kalau souvenir atau cindera mata sulit. Batik Jambi bagus, tapi nggak semua orang mampu membelinya karena harga yang mahal. Nah, kita mencoba menampilkan ciri khas Jambi itu dalam sebuah cinderamata yang semua orang bisa beli," papar perempuan berjilbab ini, Kamis (24/7) sore.

Ide awal untuk membuat sebuah kreasi ini menurutnya bermula dari tawaran Dikti yang membuat program kreatif mahasiswa. Disitulah ia berembuk dengan empat kawannya, yakni Eko Fajar Wibowo, Dwitri Pilendia, Alfha Vionita, dan L.Widodo untuk membuat sesuatu yang memiliki nilai jual. Kreasi batik Jambi berpadu dengan biji karet menjadi pilihan mereka.

"Kita tahu Jambi merupakan salah satu penghasil karet terbesar, di sekitar perkebunan karet itu ada biji karet yang tidak bernilai ekonomi. Padahal kalau kita kreasikan, itu bisa bernilai jual. Sedangkan batik jambi masih kurang populer. Masyarakat masih menganggap batik ya Jawa. Lagian batik Jambi mahal. Kita banyak lihat di penjahit, banyak kain perca yang dibakar, tidak ada memanfaatkan fungsinya, itu kita kreasikan," papar Trias antusias.

Dari kedua bahan dasar itulah Trias membuat cinderamata seperti bros, gantungan kunci, pensil, kalung, masker, bando dan lainnya. Yang membedakan cinderamata buatan Trias dan kawan-kawan dengan cinderamata lainnya adalah di sini ia menggunakan bahan-bahan yang identik dengan Jambi. Dengan bahan yang sederhana tersebut, cinderamata ini bisa diperoleh dengan harga mulai Rp 3.000 saja per item.

"Kita punya mitra kerja angso production dan rengke-rengke. Pemasaran kita sejauh ini masih personal marketing, atau lewat bazaar. Kendala produski yakni kita hanya berlima dengan kesibukan masing-masing. Belum bisa memperkejakan karyawan karena terbentur modal, sehingga produksi yang kami hasilkan belum bisa mencukupi permintaan. Paling baru mampu terima order sejumlah ratusan," tutur perempuan kelahiran 4 November ini.

Ia berharap apa yang ia kreasikan saat ini nantinya akan membawa manfaat untuk orang lain, misalnya usaha ini nantinya menjadi industry rumah tangga yang bisa diikuti ibu rumah tangga, untuk menambah ekonomi mereka. Tentu saja ia juga memiliki harapan untuk pemerintah agar usaha kreatif seperti ini mendapatkan perhatian yang serius.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved