Pilpres 2014
Din Keliling Kampung ajak Memilih
Tak dipungkiri, pada setiap pemilihan umum (Pemilu) yang digelar oleh pemerintah, angka golongan putih alias Golput tetap menghiasi.
Penulis: Hendri Dunan | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM - Tak dipungkiri, pada setiap pemilihan umum (Pemilu) yang digelar oleh pemerintah, angka golongan putih alias Golput tetap menghiasi. Namun apa yang terjadi di Panti Sosial Treshna Werdha (PSTW) Budi Luhur, Jambi dan apa yang dilakukan oleh Sodin patut menjadi perhatian. Golput bukan alasan bagi mereka.
Di panti sosial yang menampung para lansia, justru semua penghuninya tidak ada yang Golput. Sebanyak 70 penghuninya menyalurkan hak suaranya. Ada yang datang sendiri ataupun terpaksa memilih dengan dibantu. Meski hanya mengetahui sosok capres lewat televisi namun tak menyurutkan semangat untuk memilih, bahkan dalam kondisi keterbatasan.
Sekitar satu jam jelang ditutup, petugas KPPS di TPS XI, Kelurahan Paal V dibantu pegawai PSTW Budi Luhur, Amirul, segera menjemput suara di kamar-kamar lansia yang tidak sempat mendatangi bilik pemilihan. Ada 11 yang harus dijemput oleh petugas.
Diantaranya adalah Harsal, Ahmad dan Zulmadi. Kepada Tribun, Rabu (9/7) Harsal yang merupakan lansia asal Sumatera Barat ini, menyatakan baginya, Golput bukanlah pilihan yang tepat. "Entah besuo dengan pemilu satu lagi atau tidak," ujarnya.
Usia yang lanjut tak menyurutkan 70 lansia tersebut untuk memilih. Bahkan lansia tersebut antusias ingin mengetahui calon yang pantas dari penilaian hasil debat kandidat. "Kami kan memang dikasih tivi di tiap wisma (kelompok kamar), kito tengok calon ketika mereka bicara waktu debat," kata Harsal, Ahmad dan Zulmadi saling menambahkan. Harsal dan kawan-kawannya juga mengatakan, mendapat informasi dari koran.
Lansia lainnya Darwati menyatakan ia mengaku memilih capres dengan latar belakang informasi yang diperoleh dari televisi. "Tiap hari kan ada di televisi, kita kan lihat,"ujar Darwati sembari terus membuat kerajinan dari manik-manik.
Teman seusianya, Aminah, juga menceritakan hal yang sama. Usia tak membuat mereka mengabaikan pemilu. "Kalau ke warung ditanya milih siapa, saya jawab milih si nomor itu," kata Aminah yang rela datang sendiri ke TPS walau kakinya sedang tidak sehat.
Kepala PTSW Budi Luhur, Tri Wiarsih, menyataka pesta demokrasi memang tak ingin disia-siakan penghuni panti. Sebagian besar penghuni panti yang sehat, akan diarahkan menuju TPS, sementara yang mengalami kendala kesehatan akan didatangi petugas KPPS. "Mereka semua terdaftar dari RT, anggota KPPS juga ada pegawai sini, jadi bisa mengetahui kondisi panti," terang Tri Winarsih.
Upaya untuk menekan Golput juga dilakukan seorang pria bernama bernama Sodin (50) yang rela keliling kampung memanggil para pemilih dengan menggunakan toa meski tak dibayar.
Aksi Sodin tersebut diketahui langsung oleh Ketua Komisi Pemilihan Umum Batanghari, Mohd Zamani Shi saat melakukan pemantuan pelaksanaan pemilihan presiden yang digelar Rabu (9/7) kemarin.
Dari penuturan Ketua KPU Batanghari, kepada Tribun, aksi Sodin tersebut membuat dirinya bangga. Seorang lelaki tua mau melakukan tindakan yang patut diacungi jempol. Din secara sukarela berinisiatif dan mandiri berkeliling kampung memanggil warga yang terdaftar dalam DPT untuk menggunakan hak pilihnya, di desa Sungai Lingkar Kecamatan Maro Sebo Ulu (MSU).
Zamani menyatakan melihat apa yang dilakukan oleh Din langsung menyempatkan diri turun dari kendaraan dinasnya dan melakukan perbincangan singkat dengan Din Jepang. Mengulang pembicaraannya dengan Din, kepada Tribun, Rabu (9/7) Zamani menyatakan apa yang dilakukannya semata-mata agar masyarakat ramai-ramai datang ke TPS. Bahkan dirinya melakukan itu secara suka rela tanpa pamrih dan mengharapkan adanya bayaran.
"Ini bulan puaso pak, sayo dak dibayar dak, yang penting masyarakat datang," tutur Din kepada Zamani.
Zamani kemudian mengungkapkan bahwa Din Jepang melakukan itu secara berulang-ulang. Dirinya keliling kampung beberapa kali. Perannya itu, dimasa lalu dilakukan oleh Dinas Penerangan ketika menyampaikan program KB atau program lainnya kepada masyarakat.
Berpakaian Hansip lengkap dengan atribut tongkat, dan menggunakan toa dirinya menjadi juru panggil warga yang belum datang ke TPS-TPS. Hal itu dilakukannya berkeliling kampung sejak pukul 08.30. WIB hingga proses pemungutan ditutup yakni pukul 13.00 WIB dengan berjalan kaki.
Menurut Slamet Warsito, Ketua PPK Kecamatan Mersam mengatakan, kakek tua yang menyerukan datang ke TPS itu bernama Sodin, yang akrab disapa Din Jepang.
"Dia mengajak masyarakat desa datang ke TPS dilakukannya tanpa pamrih," katanya.
Sementara itu, Zamani sendiri mengaku sangat mengapresiasi tindakan terpuji Din Jepang. Dirinya berharap masyarakat menghargai jasa lelaki tua tersebut yang secara sadar menggugah warga untuk mendukung program pembangunan. Penggunaan hak suara itu diakui sangat mendukung terpilihnya presiden atau pemimpin pilihan rakyat.
"Saya mengapresiasi perbuatan Din Jepang. Itu cara yang saat ini sudah tidak ada lagi yang mau melakukannya tanpa pamrih. Dan itu sangat efektif mengurangi angka Golput di masyarakat,"ungkap Ketua KPU Batanghari.