Young Ster
Ayo Berkarya Mumpung Masih Muda
TREN selfie ataupun bernarsis dengan gadget barangkali menjadi tren yang paling hits akhir-akhir ini. Namun bila diperhatikan lebih seksama,
Penulis: wahid | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM - TREN selfie ataupun bernarsis dengan gadget barangkali menjadi tren yang paling hits akhir-akhir ini. Namun bila diperhatikan lebih seksama, para kawula muda Jambi memiliki tren baru yang lebih menarik, yakni memiliki orientasi bisnis. Banyaknya ragam usaha yang dikelola bisa menjadi buktinya. Mulai café kaki lima hingga restoran maupun butik yang dikelola anak muda Jambi. Selain menumbuhkan geliat perekonomian di Jambi, apa yang dilakukan para kawula muda ini tentu menjadi sebuah catatan positif daripada sekedar menghabiskan waktu dengan aktivitas yang tanpa hasil.
Bila berkunjung di kawasan Kota Baru Jambi, kita bisa melihat langsung betapa banyaknya bandrekan yang berderet sepanjang jalan. Belum lagi pedagang dadakan yang muncul setiap sore menggunakan mobil yang dijadikan lapak dagangan. Menjajakan makanan ringan, kaus hingga jam tangan barangkali sudah menjadi pemandangan yang wajar bagi masyarakat Kota Jambi. Bila Anda memperhatikan lebih seksama lagi, rata-rata kawula muda mendominasi usaha kecil tersebut.
Bobby menjadi salah satu diantaranya. Berawal dari membuka rumah makan kecil-kecilan di kawasan Broni, lulusan SMA Ferdy Ferry ini sekarang sudah memiliki restorannya sendiri yang bertempat di kawasan Kota Baru. Ia memulai merintis usaha sejak umur 19 tahun, praktis setelah ia lulus SMA. Keputusan untuk membuat usaha didorong keinginannya menjadi seorang pemuda yang sukses.
“Yang jelas, pengen sukses di usia muda, sebelum umur 25 tahun. Bukan ketika nanti akan kuliah saya sudah bisa membiayai sendiri,” paparnya kepada Tribun, Sabtu (26/4).
Dari aktivitasnya tersebut, setidaknya Bobby berhasil membuka kesempatan kerja bagi orang lain yang membutuhkan. Aktivitasnya membangun usaha menurutnya lebih menarik dan memuaskan daripada hanya sebatas kumpul ngobrol. Bukan berarti kumpul dan ngobrol tidak ada manfaatnya sama sekali, karena bisa saja berawal dari berkumpul dan berbincang itu seseorang menemukan wawasan-wawasan baru ataupun motivasi yang membangun.
“Ya setidaknya saya jadi bisa masak. Sebelum membuka usaha saya gak bisa apa-apa, membuka usaha ini mau tak mau saya harus bisa masak,” candanya diikuti gelak tawa.
Menyebut kawula muda Jambi yang menjalani usaha pribadi ada beberapa sederet nama lainnya yang sudah cukup dikenal di Jambi. Sebut saja Harry Akbar dengan kreasi batik Jambi yang mulai banyak digandrungi. Ada juga Patria dengan busana distro bercirikan sentuhan nuansa batik Jambi.
Dalam perbincangan dengan Tribun, Harry Akbar sempat menyampaikan bahwa usaha batik ini dirintisnya sejak lulus SMA pada tahun 2009 di Thehok, Kota Jambi. Ide bisnis ini didapat saat ia memberikan hadiah kain batik untuk guru-gurunya sewaktu lulus SMA. Selain kain, ia juga menghadiahi guru-gurunya beberapa lembar baju batik buat kenang-kenangan. Setelah membeli pakaian batik itu, Harry mulai berpikir kenapa tidak memproduksi batik sendiri. Apalagi, selama ini motif batik Jambi tidak banyak variasinya. Mereka yang memproduksi batik juga kebanyakan orang-orang tua.
Tidak mudah bagi Harry merintis usaha ini. Terlebih, modal yang dimiliknya juga sangat minim.
Guna mendapat modal, ia pun membujuk orang tuanya untuk menggadaikan sertifikat rumah ke Bank Mandiri. Gayung bersambut. Orang tuanya bersedia menggadaikan sertifikat rumah. Iapun mendapatkan modal Rp 20 juta dari situ.
Namun, Harry hanya menggunakan Rp 15 juta sebagai modal awal. Sisanya ia berikan ke orang tuanya untuk keperluan lain. Pada awal menjalankan usaha, Harry mulai merasakan menjadi seorang pengusaha dengan omzet yang tidak stabil. "Selama enam bulan pertama, total omzet saya hanya Rp 85 juta," kenangnya.
Memasuki tahun 2010, Harry mulai mendesain sendiri motif-motif batik yang diproduksinya.
Untuk motif batik ini, ia fokus juga mengusung tema flora dan fauna khas Jambi. Di antaranya, motif angso duo, motif belah duren, motif batanghari, dan candi muaro Jambi yang semua inspirasinya dari Jambi. Tak sia-sia, ia kini sukses meraup omzet dari bisnis di atas Rp 100 juta per bulan. Di bawah bendera usaha Galery Batik Jambi Desmiati, produk batik Harry diminati di dalam dan luar negeri.

