Jelajah Kuliner
Gurihnya Kletek Udang Khas Kampung Laut
SEPERTI biasa, setiap pagi datang, Ramlah (51) sudah menyibukkan dirinya di dapur. Begitu juga saat Tribun bertandang ke rumahnya, Senin (24/2) lalu.
Penulis: wahid | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM - SEPERTI biasa, setiap pagi datang, Ramlah (51) sudah menyibukkan dirinya di dapur. Begitu juga saat Tribun bertandang ke rumahnya, Senin (24/2) lalu. Sebuah cobek batu lengkap dengan bumbu di atasnya berada di hadapannya, tangan kanannya memegang ulekan. Dengan cekatan, perempuan berkerudung ini mengolah bumbu, meramu dan melembutkan bahan masakan sebelum akhirnya memasaknya. Ramlah adalah satu dari sekian warga Kampung Laut, kabupaten Tanjung Jabung Timur yang mempertahankan penganan khas kawasan ini, yakni Kletek Udang.
Menuju Kampung Laut, seseorang harus mempuh waktu sekitar dua jam dari Kota Jambi. Satu jam setengah untuk menempuh jarak sampai di pusat perkantoran kabupaten Tanjung Jabung Timur. Dari situ perjalanan masih harus ditempuh sekitar 20 hingga 30 menit untuk sampai ke Kampung Laut. Bila sudah sampai di kawasan ini Anda harus berjalan, atau bisa juga mengendarai sepeda motor. Namun mobil harus diparkirkan di ujung jalan karena akses jalan yang tidak memungkinkan.
Bagi masyarakat Jambi, khususnya bagian timur, Kletek Udang barangkali bukan nama yang asing lagi. Makanan berjenis kerupuk dengan bentuk stik berbahan udang murni ini memang lain. Rasanya yang super gurih dan renyah menjadikan makanan ini banyak penggemar. Berbeda dengan kerupuk udang yang berbentuk pipih lebar, kletek udang ini memiliki beberapa keistimewaan, baik dari segi bahan, komposisi hingga pembuatannya.
Di beberapa tempat, makanan ini juga dikenal dengan nama kerupuk kayu api. Nama itu diberikan karena bentuknya mirip kayu api, bulat agak panjang. Juga proses memasaknya dulu orang hanya menggunakan kayu bakar. Meski masih ada masyarakat yang menggunakan kayu bakar, namun saat ini warga memasak menggunakan kompor gas.
Ketika Tribun ingin melihat proses pembuatan Kletek Udang, ibu empat anak ini dengan antusias menunjukkannya. Sembari mengolah bahan, ia menjelaskan bahwa kletek udang tidak bisa sembarangan dibuat. Prosesnya pun terbilang susah-susah gampang. Ujian terberatnya adalah ketika proses penggorengaan.

