Breaking News:

Penerapan PMRI

Bagaimana Membuat Siswa SD Senang Matematika?

Saya pernah ikut pelatihan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) di Jogyakarta.

Bagaimana Membuat Siswa SD Senang Matematika?
dok pribadi

Pembelajaran di kelas diharapkan bertujuan untuk membuat siswa memiliki pengalaman baru dengan strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.

Ini menunjukkan bahwa materi yang mempunyai suatu pola atau struktur tertentu akan lebih mudah dipahami dan diingat peserta didik.

Hal ini sejalan dengan nafas kurikulum 2013 yang baru di-lauching pemerintah yaitu pendidikan yang lebih berpusat pada peserta didik.

Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) adalah suatu pendekatan teoritis terhadap pembelajaran matematika. Teori ini pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda  yang dikenal dengan istilah Realistic Mathematic Education (RME). Di Indonesia RME dikenal dengan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI).

Satu di antara prinsip Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) menurut De Lange (1987), sesuai dengan kurikulum 2013 yakni Kemandirian siswa secara intelektual.

Artinya, matematika harus dikaitkan dengan realitas dalam arti real bagi siswa, konteks dunia nyata dipakai sebagai sumber pengembangan konsep dan sebagai lahan aplikasi.

Pada PMRI, pembelajaran matematika dilakukan dengan mengarahkan siswa kepada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan, untuk menemukan kembali konsep matematika dengan cara mereka sendiri.

Proses ini diawali dengan pemberian masalah yang sesuai dengan kehidupan siswa (kontekstual) (Hadi, 2005).

Masalah nyata yang dimaksud bukan berarti konkret, tetapi dapat juga sesuatu yang dapat dibayangkan siswa. Penggunaan dunia nyata di awal pembelajaran berfungsi sebagai cara untuk  membangun konsep sendiri, merupakan prinsip utama dalam pembelajaran matematika.

Pembelajaran matematika pada siswa kelas 2 sekolah dasar sebaiknya dimulai dengan menerapkan Pendekatan Matematika Realistik Indonesia. Guru tidak dibiasakan memberi tahu konsep/sifat/teorema dan cara menggunakannya, sehingga anak menerimanya secara pasif dan tidak kritis.

Halaman
123
Editor: esotribun
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved