Catatan Akhir Tahun
Samisake dan Proyek Mercusuar
Waktu terus bergulir. Dalam hitungan hari kita akan menutup kalender 2013, segera menyongsong 2014. Keberhasilan dan kegagalan waktu lalu,
Penulis: ridwan | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM - Waktu terus bergulir. Dalam hitungan hari kita akan menutup kalender 2013, segera menyongsong 2014. Keberhasilan dan kegagalan waktu lalu, adalah catatan dan waktu yang akan datang harus ditentukan hari ini. Kata orang bijak waktu laksana mata pisau, jika tidak diisi maka waktu akan menggilas kita.
SEIRING bergulirnya waktu, Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah di bawah kepemimpinan Gubernur Hasan Basri Agus (HBA) terus berpacu dengan sederet program-program unggulan di antaranya program Satu Kecamatan Satu Miliar (Samisake) yang menjadi program primadona untuk mewujudkan Jambi Emas 2015.
Di dalam program Samiksake tersebut ada bedah rumah, pengurusan sertifikat gratis, Jamkesda, pembangunan jalan sarana produksi, serta biaya pendidikan khusus untuk anak dari orangtua yang tidak mampu (miskin).
Bagi HBA dan wakilnya Fachrori Umar yang dilantik 5 Agustus 2010 lalu, 2014 mendatang adalah pertaruhan untuk mewujudkan visi misi Jambi Emas 2015.
Keberhasilan atau kegagalan program-program unggulan tadi akan ditentukan tahun ini, dan 2014. Satu tahun yang tersisa dalam rentang 2014-2015 biasanya kepala daerah sudah tidak fokus lagi memikirkan pembangunan daerahnya. Suksesi 2015 sudah menanti, jika HBA mau maju lagi maka sisa waktu satu tahun, praktis tersita untuk sosialisasi dan tetek- bengek lainnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jambi Fauzi Ansori mengatakan, program Samisake digeber pada 2011 yang awalnya dimulai dengan pekerjaan bedah rumah di kota Jambi bekerjasama dengan tentara. Dan setelah itu barulah program ini menggelinding ke daerah kabupaten.
Konsep Samisake diluncurkan dengan tujuan agar di 2015 nanti tidak ada lagi masyarakat yang rumahnya tidak layak huni, tidak punya sertifikat, jangan ada lagi anak-anak dari orangtua yang tidak mampu tidak bersekolah, dan berobat gratis bagi orang miskin.
Kata Fauzi, Samisake pada dasarnya sebuah program ditujukan mengakselerasi percepatan pembangunan di Provinsi Jambi yang berpenduduk 3.092.265 jiwa (Sensus 2010, Red) dengan basis kegiatan di kecamatan. Samisake juga mengurangi ketimpangan pembangunan antar wilayah, meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan denyut perekonomian di desa.
Selama dua tahun lebih perjalanan Samisake memang tidak semulus apa yang dibayangkan. Bahkan ada yang menyebutkan kalau program Samisake ini sarat muatan politis. Pro dan kontra tentu saja ada, apalagi hingga sekarang belum semua kecamatan tersentuh program ini. Dari 131 kecamatan di Provinsi Jambi yang ditargetkan, sudah terealisasi antara 40-50 persen. Namun diharapkan pada 2015 mendatang, semuanya sudah clear.
Jembatan pedestrian
Selain Samisake, HBA juga menggagas pembangunan jembatan Pedestrian (jembatan penyeberangan orang, Red) yang membentang di atas Sungai Batanghari. Pembangunan jembatan satu paket dengan jam gedang bernama Gentala Arasy (nama Arasy adalah singkatan dari almarhum Abdurrahman Sayoeti, Gubernur Jambi periode 1989-1999).
Jembatan dan jam menelan anggaran seratusan miliar rupiah dengan rincian, jembatan sekitar Rp 86 miliar, dan jam Gentala Arasy lebih kurang Rp 15 miliar.
Kedua bangunan proyek "Mercusuar" itu mulai digenjot 2013. Bangunan jam sudah selesai, dan malah sedang dibidik pihak Kejaksaan Tinggi Jambi untuk diselidiki karena dugaan penyimpangan dalam penggunaan dananya. Ini berawal dari laporan lembaga swadaya masyarakat (LSM) ke Kejaksaan Tinggi Jambi. Untuk jembatan Pedestrian, hingga kini masih dalam pengerjaan.
Seperti diketahui, awalnya kedua megaproyek yang menyedot duit rakyat miliaran rupiah itu ditentang banyak pihak, karena ada yang lebih prioritas dibandingkan sebuah jembatan pejalan kaki, dan jam gedang Gentala Arasy.
Menanggapi itu HBA pernah bilang, pembangunan jembatan Pedestrian tidak asal- asalan melainkan melalui sederet pertimbangan matang. Di antaranya ada pertimbangan dari aspek ekonominya, dan bukan untuk menghambur-hamburkan uang. Menurut dia Kota Jambi sebagai ibukota provinsi serta etalasenya harus memiliki ikon sebagai ciri khas sebuah kota.
Jembatan Pedestrian dan Jam Gedang Gentala Arasy dibangun tepat di depan rumah dinas gubernur. Kedua bangunan prestius itu juga diharapkan mampu menyedot wisata di gerbang wisata kuliner Tanggo Rajo tersebut.
Samisake, jembatan Pedestrian serta Gentala Arasy memakan anggaran tidak sedikit. Bermiliar-miliar duit rakyat digelontorkan di sini. Pendek kata tinggal satu tahun lagi bagi HBA untuk menggeber megaproyek tersebut agar targetnya tepat waktu.
Inilah pertaruhan putra Sarolangun ini untuk melangkah ke periode berikutnya. Itupun jika mantan Sekda kota Jambi ini berniat mau bertarung di suksesi 2015.
Sekadar mengingat masih banyak lagi PR HBA mesti dituntaskan. Pembangunan infrastruktur jalan terutama jalan kota, ada baiknya Provinsi juga ikut bergotong royong. Apapun alasannya, kota adalah bagian terpenting dari provinsi. Seperti disebut di atas bahwa kota adalah ikon, rasanya tidaklah berlebihan jika jalan kota yang notabene di depan mata mesti dipersolek.
Begitupun kisruh mega proyek pasar tradisional Angso Duo hingga sekarang belum ada progres signifikan. Relokasi pasar tradisional terbesar di Jambi ini lagi-lagi mandeg. Pembangunan bekerjasama dengan pihak ketiga dengan sistem BOT pun menemui jalan buntu. Karena proses tendernya tidak ada penawaran pihak ketiga. Barangkali perlu dicari opsi lain. Kata pepatah banyak jalan menuju Roma.