Banjir
Warga Desa Tanjung Terpaksa Pakai Perahu
TRIBUNJAMBI.COM – Basrul, Kepala Desa Tanjung, Kecamatan Tanah Kampung, Sungaipenuh mengaku
Penulis: edijanuar | Editor: Rahimin
Laporan Wartawan Tribun Jambi, Edi Januar
TRIBUNJAMBI.COM, SUNGAIPENUH – Basrul, Kepala Desa Tanjung, Kecamatan Tanah Kampung, Sungaipenuh mengaku, semua rumah di desanya sudah tergenang air. Akibat banjir, sebagian warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Banjir terparah terjadi di tiga desa, yakni Desa Tanjung, Tanjung Mudo, dan Desa Tanjung Bungo," jelasnya.
Untuk transportasi, kata Basrul, warga terpaksa menggunakan perahu, yang menghubungkan antara rumah warga dengan rumah warga lainnya.
"Malam tadi jalan utama tidak bisa dilewati, karena airnya sangat besar. Namun siang tadi sudah agak surut," ujarnya.
Banjir juga membawa dampak bagi warga. Menurut Basrul, sudah enam tahun warga di tiga desa tersebut tidak bisa lagi bersawah. Soalnya sawah mereka selalu terendam banjir saat hujan turun.
"Untuk bertahan hidup, warga ada yang menjadi pencari ikan, dan menjadi buruh tani ke desa-desa lainnya," ia menjelaskan.
Untuk mengatasi agar banjir tidak terus melanda, Basrul menyarankan pemerintah menormalisasi sungai dan Danau Kerinci. Serta membersihkan 23 kincir yang ada dibagian hilir sungai.
"Di daerah Tanjung Pauh, ada 23 kincir air yang dipasang warga. Untuk menggerakkan kincir air tersebut, warga membuat tanggul. Sehingga ketinggian air meningkat. Kalau itu tidak dibongkar, ketinggian air tidak akan surut," ujarnya.
Pantauan Tribun di lapangan, imbas banjir terparah ini dirasakan Rainawati. Seluruh bagian rumahnya tergenang air, tak terkecuali kamar tidur dan dapurnya, yang juga ikut tergenang.
Ditemui dikediamannya, Rainawati mengaku air sudah masuk ke rumahnya sejak satu bulan terakhir, namun tidak terlalu tinggi. Ketinggian air yang mencapai lutut orang dewasa baru terjadi pada malam tadi.
TRIBUNJAMBI.COM, SUNGAIPENUH – Basrul, Kepala Desa Tanjung, Kecamatan Tanah Kampung, Sungaipenuh mengaku, semua rumah di desanya sudah tergenang air. Akibat banjir, sebagian warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Banjir terparah terjadi di tiga desa, yakni Desa Tanjung, Tanjung Mudo, dan Desa Tanjung Bungo," jelasnya.
Untuk transportasi, kata Basrul, warga terpaksa menggunakan perahu, yang menghubungkan antara rumah warga dengan rumah warga lainnya.
"Malam tadi jalan utama tidak bisa dilewati, karena airnya sangat besar. Namun siang tadi sudah agak surut," ujarnya.
Banjir juga membawa dampak bagi warga. Menurut Basrul, sudah enam tahun warga di tiga desa tersebut tidak bisa lagi bersawah. Soalnya sawah mereka selalu terendam banjir saat hujan turun.
"Untuk bertahan hidup, warga ada yang menjadi pencari ikan, dan menjadi buruh tani ke desa-desa lainnya," ia menjelaskan.
Untuk mengatasi agar banjir tidak terus melanda, Basrul menyarankan pemerintah menormalisasi sungai dan Danau Kerinci. Serta membersihkan 23 kincir yang ada dibagian hilir sungai.
"Di daerah Tanjung Pauh, ada 23 kincir air yang dipasang warga. Untuk menggerakkan kincir air tersebut, warga membuat tanggul. Sehingga ketinggian air meningkat. Kalau itu tidak dibongkar, ketinggian air tidak akan surut," ujarnya.
Pantauan Tribun di lapangan, imbas banjir terparah ini dirasakan Rainawati. Seluruh bagian rumahnya tergenang air, tak terkecuali kamar tidur dan dapurnya, yang juga ikut tergenang.
Ditemui dikediamannya, Rainawati mengaku air sudah masuk ke rumahnya sejak satu bulan terakhir, namun tidak terlalu tinggi. Ketinggian air yang mencapai lutut orang dewasa baru terjadi pada malam tadi.