Minggu, 17 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Benang Emas dan Sulaman Celana Sultan Thaha

SEPINTAS terlihat tak ada yang istimewa pada sehelai celana yang diperlihatkan oleh Nurlaeni

Tayang:
Penulis: Deddy Rachmawan | Editor: Suang Sitanggang
Hubungan dagang nusantara dengan bangsa luar yang terjalin sejak zaman dulu bukan cuma berbuah akulturasi yang dipraktikkan secara massal. Dalam hal pakaian yang sifatnya lebih personal pun, ikut pula terwarnai. Demikian halnya dengan pakaian yang dikenakan Sultan Thaha semasa hidupnya.

SEPINTAS terlihat tak ada yang istimewa pada sehelai celana yang diperlihatkan oleh Nurlaeni kepada Tribun, Kamis (3/1) siang. Digantung dengan hanger layaknya pakaian kebanyakan, tak akan ada yang menyangka bila serawal tersebut adalah benda bersejarah.

Benda tersebut sudah jadi koleksi Museum Siginjei sejak tahun 1996. Walau baru 17 tahun di museum yang dulunya bernama Museum Negeri Jambi tersebut, tapi sesungguhnya celana itu berasal dari akhir abad 18 atau awal abad 19. Artinya, celana dari tahun 1900-an tersebut sudah berusia ratusan tahun!

Itulah celana panjang bernomor inventaris 03.914 yang disebut-sebut dulunya dikenakan Sultan Thaha. Tribun awalnya sempat ragu jika celana berwarna ungu itu adalah peninggalan Sultan Thaha. Terlebih ketika menyentuhnya, kondisi bahan celana tersebut jauh dari kesan lapuk dimakan usia. Boleh jadi karena koleksi itu disimpan di ruang khusus membuatnya jauh lebih awet.

"Ini sudah kita konservasi,” kata Nurlaeni yang tak lain Kasi Pengelolaan Koleksi Museum Siginjei. Konservasi yang disebut wanita berkerudung itu merujuk pada tindakan pemeliharaan dan perbaikan. Tentu, dengan tetap mempertahankan bentuk awal nan sarat makna filosofisnya.

Bila diamati lebih teliti, ada robek pada celana tersebut. Sebagaimana celana pada umumnya, robek dan aus itu terdapat di bagian belakang.

Wanita yang akrab disapa Leni itu lantas mengukur dimensi celana tatkala Tribun ajukan pertanyaan mengenai ukuran. Tanpa alat ukur formal, ia lantas memanfaatkan ubin di lantai. Dari pengukuran dengan cara nyaris kira-kira itu, diketahui celana itu memiliki panjang 1,10 meter; lingkar pinggul 132 sentimeter; lingkar bawah 55 sentimeter. 

Di pinggang celana itu ada karet melingkar sehingga lebih elastis. Leni bilang, bagian atas celana bukan asli seperti sediakala. Lantaran cabik bagian atas itu sudah diganti dengan bahan lain.

Celana yang tampak gombrong itu, didominasi warna ungu sebagai dasarnya. Di bahan itulah terdapat sulaman berbenang emas dengan motif nan sarat makna.

Menurutnya, dari benang emas itulah mereka mengetahui usia celana tersebut. "Kami meneliti dari benang emasnya. Benang emas ini yang juga dipakai di songket Jambi yang lama. Menurut ahli, benang emas ini tidak diproduksi lagi,” paparnya saat disambangi kemarin.

Benang emas adalah salah satu benda yang diperdagangkan di masa lampau. Benang emas bersama, sutra, kain diniagakan melalui jalur laut oleh pedagang dari Cina, Arab. Menurut Leni, benang emas itu berasal dari kawasan yang kini bernama Singapura.

Sejumlah koleksi songket Museum Siginjei juga berbahan benang ini. Songket tersebut disebutkan Lebi juga berasal dari abad 18 yang di antaranya mereka dapatkan dari Sarolangun, Bangko. Songket itu dikenal dengan nama kain tenun anak misah atau mastuli. Itu merupakan hasil karya para gadis Jambi di masa lampau yang kini boleh dibilang tak lagi ditemukan. Hubungan dagang tempo dulu itulah yang mewarnai corak pakaian masyarkat Jambi dulu, termasuk Sultan Thaha yang merupakan pahlawan nasional dari Jambi.

Mengenai filosofi pada celana tersebut ada pada motif sulaman berbahan benang emas tadi. Namanya, kata dia, relung daun kangkung dan daun pakis. 
Relung kangkung sebagaimana diterangkan Leni, bermakna mati satu tumbuh seribu.  "Itu mengartikan semangat yang tidak patah, terus tumbuh,” paparnya. 

Relung daun kangkung ini bentuknya berupa sulur memanjang yang polanya vertikal. Vertikal, sebutnya, menandakan hubungan ke atas, Tuhan. Adapun pola daun pakis dimaknai sebagai tekad yang kuat menghadapi rintangan.

Penuturan Leni, celana yang merupakan pakaian kebesaran Sultan Thaha itu didapatkan museum dari keluarga Sultan Thaha, yakni Usman Asegaf. 

Celana yang menjadi koleksi museum itu menjadi peninggalan sejarah yang berkaitan dengan Sultan Thaha selain Medali Turki. Menjelang hari jadi 

Pemerintah Provinsi Jambi pada 6 Januari nanti, kiranya peninggalan sarat nilai sejarah itu bisa kembali dimaknai oleh para elit dan masyarakat Jambi. 

Benang merahnya, bagaimana mewujudkan Jambi Emas dengan semangat sulaman benang emas pada celana Sultan Thaha, yakni semangat pantang menyerah. (deddy rachmawan)
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved