Breaking News:

Catatan Sepakbola

Kematian Mendieta Sebagai Tragedi Sepakbola

JAKARTA - Harimau mati meninggalkan belang, Diego Mendieta wafat meninggalkan piutang ... dan tiga orang anak yang masih kecil.

Kejamnya Sepakbola Indonesia

Kematian Mendieta terjadi tak lama setelah tim nasional Indonesia harus tersingkir di babak grup Piala AFF 2012. Banyak orang yang percaya bahwa kegagalan tim nasional adalah titik paling rendah perjalanan sepak bola Indonesia. Untuk sejumlah alasan itu benar, tapi untuk beberapa alasan lainnya: kematian Mendieta-lah titik terendah itu.

Jika kematian yang mengenaskan tak dianggap sebagai tragedi menyedihkan, tragedi apa lagi yang bisa menyadarkan semua stakeholder sepakbola Indonesia? Karena prestasi masih bisa dicari, tapi nyawa mustahil kembali.

Apa bisa La Nyalla -- yang di bawah otoritasnya Mendieta bermain dan tak digaji -- mengembalikan nyawa Mendieta? Bagaimana Mau menyelamatkan sepakbola jika mengurus pengobatan dan perawatan Mendieta saja tak becus?

Jangan lupa: dapatkah Djohar Arifin tegas menghukum klub di bawah PSSI yang menunggak gaji demi menghindari insiden tragis ini terulang? Tak terbilang juga kasus tunggakan gaji di klub-klub IPL. Tak ada yang menjamin kasus yang sama tak akan menimpa pemain-pemain IPL jika tak ada pembenahan serius dan ketegasan yang tanpa kompromi dalam persyaratan finansial klub sebagaimana disyaratkan AFC.

Solusinya pun sudah banyak diuraikan. Dari mulai pentingnya pembinaan pemain, kompetisi yunior, jadwal liga yang teratur, sampai solusi atas persoalan finansial klub. Panduan yang diberikan AFC dan FIFA sudah lengkap, siapa pun bisa membaca dan mempelajarinya. Sudah sangat banyak dan sering orang membicarakannya, dari mulai obrolan warung kopi sampai kicauan di media sosial.

Persoalannya, dualisme ini membuat semuanya serba sulit. Saya beri satu contoh saja: jika salary-cap [standarisasi gaji] diperlakukan IPL atau ISL, nyaris pasti pemain-pemain yang tidak setuju bisa hijrah ke kompetisi satunya lagi yang akan menerima hijrahnya pemain sebagai momentum pencitraan.

Di tengah konflik yang entah sudah memasuki jilid ke berapa, kematian Mendieta [juga belasan atau bahkan puluhan kematian suporter], menyodorkan sebuah pertanyaan penting: untuk apa dan demi siapa sebenarnya sepakbola Indonesia?

Artikel ini hanya sebuah obituari yang hendak mengabadikan nama Diego Mendieta sebagai korban kejamnya sepak bola Indonesia. Kejam? Memang iya. Jika tak terima disebut kejam, silakan bertanya pada tiga anak Mendieta di Paraguay sana, jangan tanya La Nyalla.

Selamat jalan, Diego Mendieta. Semoga kau diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Dan semoga tak ada orang yang karena saking frustasinya pada keruwetan sepak bola Indonesia nyeletuk dengan penuh kemasygulan: Tuhan versi PSSI atau KPSI? (detik.com)

==
* Penulis adalah penulis, tinggal di Bandung. Akun twitter: @zenrs

Editor: esotribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved