Breaking News:

Catatan Sepakbola

Kematian Mendieta Sebagai Tragedi Sepakbola

JAKARTA - Harimau mati meninggalkan belang, Diego Mendieta wafat meninggalkan piutang ... dan tiga orang anak yang masih kecil.

Contoh lain inkompetensi PSSI [yang tak mungkin mengkambinghitamkan KPSI] adalah pada persiapan jelang AFF. Manajemen timnas yang berantakan, Bernhard Limbong [Ketua Badan Tim Nasional] dan Habil Marati [manajer tim nasional] saling berebut panggung. Agenda ujicoba yang berkali-kali berantakan. Belum lagi ketidakmampuan memanfaatkan jadwal FIFA untuk ujicoba. Bagaimana bisa Djohar bilang akan menggelar ujicoba internasional timnas tiap bulan? Memangnya jadwal FIFA untuk international break itu ada tiap bulan?

Ada sejumlah perkara di mana KPSI bisa dijadikan kambing hitam. Tapi banyak juga urusan di mana PSSI tak bisa mencari kambing hitam selain dirinya sendiri.

Pusat yang Ruwet dan Daerah yang Bermasalah

Dengan menjadikan tragedi Mendieta sebagai poros utama pembahasan, artikel ini ingin memberi tambahan penekanan: kebrengsekan sepakbola Indonesia tidak dimonopoli oleh para elitnya di Jakarta, tapi juga "juragan-juragan kecil" di daerah.

Persis Solo yang bermain di Divisi Utama PT LI dibentuk oleh kesepakatan klub-klub anggota Persis Solo. Keputusan klub-klub internal Persis untuk ikut PT LI makin bulat setelah Joko Driyono datang ke Solo. Dari situlah kemudian muncul Persis yang bermain di bawah PT LI dan di situlah Mendieta tak dibayar gajinya sampai akhirnya wafat.

Jika Persis Solo yang bermain di bawah kompetisi PSSI dan didukung oleh Pasoepati saja megap-megap keuangannya, apalagi Persis yang tidak didukung Pasoepati? Tampak bagaimana Persis di bawah PT LI muncul tanpa persiapan dan perencanaan yang matang. Kematian Mendieta adalah petaka mengerikan dari proses yang carut marut ini.

Tapi Persis tidak sendirian. Beberapa klub tradisional juga mengalami persoalan serupa. Ketika Persib Bandung memilih bermain di ISL, dengan segera klub-klub anggota menggoreng isu Persib 1993. Proses yang kurang lebih sama berlangsung di PSMS Medan dan Persebaya Surabaya.

Di sinilah salah satu bom waktu sepak bola Indonesia. Klub-klub anggota di masing-masing klub eks-perserikatan secara historis punya hak. Soalnya adalah: transisi dari klub milik pemerintah menjadi PT seringkali tidak jelas. Polemik kepemilikan Persisam Samarinda [antara Harbiansyah dan Pemkot Samarinda] beberapa waktu lalu bisa jadi contoh belum clear-nya transisi pengelolaan klub. Hampir di setiap klub, jika ditelisik dengan rinci, persoalan kepemilikan ini masih menyisakan persoalan.

Bukan rahasia umum lagi juga dua kubu elit sepak bola di Jakarta kerap menggoreng isu melalui "juragan-juragan kecil" pemilik klub-klub anggota eks-perserikatan dan pengurus-pengurus Pengcab PSSI. Jika di Jakarta terjadi perebutan PSSI dan pengelolaan kompetisi, di daerah klub menjadi bancakan banyak orang dan kepentingan. Jika PSSI dituding mengkloning klub Persija dan PSMS, KPSI dan PT LI juga tak bisa mengelak dari tuduhan yang sama terkait Persis Solo dan Persebaya.

Cukup jelas: pusat dan daerah punya kebrengsekannya masing-masing.

Halaman
123
Editor: esotribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved