Sengketa Lahan
Polisi Panggil 10 Saksi Terkait Pembakaran PT JAW
TRIBUNJAMBI.COM -Polres Sarolangun lewat Polsek Air Hitam telah memanggil 10 orang saksi.
Penulis: jariyanto | Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN -Polres Sarolangun lewat Polsek Air Hitam telah memanggil 10 orang saksi guna dimintai keterangan seputar aksi pembakaran massa terhadap camp karyawan PT Jambi Agro Wijaya (JAW). Namun, dari 10 orang yang telah dipanggil belum ada yang mengarah pada penetapan tersangka.
"Kita sudah meminta keterangan 10 orang, tetapi dari keterangan para saksi itu, mereka tidak ada yang mengetahui secara pasti, siapa saja yang melakukan aksi pembakaran," ujar Kapolres Sarolangun, AKBP Satria Adhy Permana melalui Kapolsek Air Hitam, AKP Pujiarso kepada Tribun, Minggu (20/5).
Pujiarso menjelaskan, secara umum kondisi di lapangan dalam keadaan kondusif. Di lokasi bekas terjadinya pembakaran, tidak aktivitas yang dilakukan oleh karyawan maupun sekuriti PT JAW. Sementara itu, massa yang sempat mengamuk Sabtu (19/5), tidak ada satu pun yang terlihat di lokasi.
"Saya juga saat ini berada di lokasi untuk memantau situasi. Tidak ada pergerakan atau kerumunan massa. Jadi, situasi sangat lengang. Saya memantau di Divisi III dan Divisi I," ungkap Pujiarso. Dikonfirmasi mengenai dugaan kelompok masyarakat yang melakukan pembakaran mengatasnamankan gabungan kelompok tani (Gapoktan) Desa Baru, Kecamatan Air Hitam, Pujiarso memang tidak menampik hal itu. Menurutnya, massa memanng seluruhnya adalah warga Pamenang, Kecamatan Pamenang.
Tetapi, lanjutnya, belum diketahui secara pasti motif dari massa ini mengatasnamakan Gapoktan Desa Baru. Namun, sebenarnya, sebelum muncul Gapoktan, sudah ada aksi-aksi sebelumnya yang mengatasnamakan Kelompok Tani Mekar Jaya (KTMJ). "Dari dulu sebenarnya sudah ada aksi-aksi, namun belum ada yang berujung pembakaran. Sebelum Gapoktan, massa ini mengatasnamakan KTMJ," tutur Kapolsek.
Sementara itu, Kepala Desa Baru, Usman yang dihubungi Tribun menegaskan, dirinya baru mengetahui bahwa nama Gapoktan desanya dicatut. Padahal, memang tidak ada satupun warganya yang ikut dalam aksi tersebut. "Saya tidak mengetahui, apa motifnya. Tetapi saya tegaskan, tidak ada warga Desa Baru yang ikut dalam aksi itu. Saya sendiri tidak paham seperti apa kasusnya, yaitu perselisihan antara perusahaan dan warga dari Pamenang ini," kata Usman.
Terpisah, Panjaitan, tokoh masyarakat Pamenang yang namanya sempat disebut oleh pihak PT JAW mengatakan, sebenarnya kedatangan ratusan massa tersebut hanya untuk melihat kondisi kebun sawit yang sudah sekitar dua tahun ditinggalkan warga. Ditinggalnya kebun ini lantaran masih menunggu proses hukum yang sedang berjalan.
"Warga sudah lama tidak melihat kebun-kebun mereka. Nah, pada Sabtu (20/5), kami hanya ingin melihat situasi di lapangan. Tetapi, saat kami berada di atas motor, pihak keamanan perusahaan, melempari warga menggunakan kayu dan batu," katanya. Lanjutnya, emosi warga muncul setelah ada yang terkena lemparan.
Pada saat yang bersamaan, masyarakat melihat ada rumah-rumah karyawan milik perusahaan yang didirikan di atas lahan masyarakat. Hal ini semakin memancing emosi masyarakat. "Massa yang jumlahnya ratusan ini langsung untuk membalas tindakan sekuriti dengan membakar rumah yang didirikan di atas lahan masyarakat tersebut. Karena jumlahnya banyak, tentu kita tentu tidak bisa lagi mengendalikannya. Ini bukan rencana awal, tetapi memang muncul secara tidak terduga," tutur Panjaitan.
"Tidak ada yang membakar motor yang berada di luar. Tetapi, kita tidak tahu, jika ada motor yang berada di dalam rumah." Menurutnya, luas lahan yang masih dalam sengketa seluas sekitar tiga ribu hektare. Lahan tersebut sebagian memang sudah ditanami sawit oleh masyarakat dan sudah menghasilkan buah pasir sebelum akhirnya diklaim oleh perusahaan. Tribun kemudian mencoba menghubungi perwakilan pihak PT JAW, yaitu Kanit Sekuriti, Taufik, namun handphonenya dalam kondisi tidak aktif.
Seperti diketahui, aksi pembakaran yang dilakukan ratusan masyarakat terjadi pada Sabtu (20/5), sekitar pukul 11.00. Dalam peristiwa ini, sebanyak 60 unit rumah yang merupakan camp karyawan ludes terbakar. Ini berada di dua lokasi, yaitu Divisi I sebanyak 12 unit dan selebihnya di Divisi III.
Selain rumah semi permanen, tiga unit sepeda motor dan juga harta benda yang berada di dalam rumah juga ikut terbakar. Pihak perusahaan sendiri mengungkapkan ada lahan sawit yang dibakar, yaitu sekitar 50 hektare. (nto)