Kompetisi Divisi II Liga Indonesia Sengit
TRIBUNJAMBI.COM - Kompetisi Divisi II U-23 Liga Indonesia XVII/2012 telah digelar di Stadion Tri Lomba Juang Koni Provinsi Jambi
Penulis: hendri dede | Editor: Rahimin
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kompetisi Divisi II U-23 Liga Indonesia XVII/2012 telah digelar di Stadion Tri Lomba Juang Koni Provinsi Jambi berlangsung sengit.
Sesuai jadwal untuk grup C terdiri dari empat tim dari wilayah Sumatera, yakni Ps Markuban, Ps PLN Jambi, Ps Putra Bengkulu, dan Ps Muko-muko.
Ketua bidang pertandingan dan kompetisi Pengprov PSSI Jambi, Effi Herman kepada Tribun, Minggu (13/5) mengatakan, pertandingan telah dimulai dari 12-15 Mei 2012.
Pada pertandingan awal Ps Bengkulu Putra berhasil mengalahkan PLN Jambi dengan skor 1-0. Sementara Ps Markuban Jambi melawan Ps Muko-muko terjadi skorsing karena ada permasalahan sewaktu pertandingan.
"Ps Muko-muko melakukan protes atas keputusan wasit yang memberikan penalti, sehingga pertandingan dihentikan. Saat ini kita akan mengadakan sidang dulu," ujarnya.
Kata Bujang Nasril, Ketua PSSI Jambi, saat ini belum bisa keputusan siapa yang menang diantara Markuban melawan Muko-Muko karena akan dilakukan sidang terlebih dahulu.
"Skor awal memang 1-1 tetapi Muko-muko tidak terima dan protes keputusan wasit yang mengatakan handball itu didalam kotak penalti. Sedangkan PS Muko-muko mengatakan hand diluar, maka terjadi permasalahan. Kini kita menunggu sidang panitia disiplin," katanya.
M Jon, pelatih Markuban mengatakan, dari hasil pertandingan sebenarnya sudah jelas Markuban yang menang, karena Ps Muko-muko tidak menerima keputusan wasit dan mogok dalam pertandingan.
"Kalau dalam peraturan mereka sudah kalah 3-0 karena mogok dan tidak mematuhi keputusan wasit," ujarnya.
Novisuryadi, pelatih Muko-muko didamping Bambang, selaku manajer membantah jika dikatakan mogok dalam pertandngan tersebut. Katanya, pemainnya merasa dirugikan atas keputusan wasit yang memeberikan penalti pada menit ke 83, padahal menurut pemainnya handsball terjadi diluar kotak pinalti.
"Kami tidak melihat handball itu di dalam kotak pinalti, jadi kami merasa dirugikan, oleh sebab itu pemain kita melakukan protes," ungkapnya.
Meskipun keputusan wasit itu mutlak, tetapi melakukan protes itu adalah hak pemain jika memang terjdi kesalahan yanbg bisa merugikan timnya.