Kecelakaan Maut di Puncak
Surya Sering Dipelototi Mayat
TRIBUNJAMBI.COM - Kondisi mayat akibat kecelakaan lalu-lintas dinilai lebih parah ketimbang kondisi mayat korban pembunuhan
Editor:
Rahimin
TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Kondisi mayat akibat kecelakaan lalu-lintas dinilai lebih parah ketimbang kondisi mayat korban pembunuhan. Namun hal ini seperti sudah biasa bagi Surya (54), termasuk 'dipelototi' mayat saat hendak dimandikan.
"Membersihkan jenazah itu ada teknik dan ilmunya sendiri. Saya pertama kali diajarkan oleh mertua saya. Kalau kondisi mayat yang matanya melotot, bagi saya sudah biasa," kata Surya yang sehari-harinya bekerja sebagai petugas pembersih mayat di RS Paru Goenawan Partowidigdo, Cisarua Bogor, Sabtu (11/2/2012).
Menurutnya mayat yang sudah dibersihkan haruslah matanya dalam kondisi tertutup. Mengenai pengalaman 'menutup mata mayat' ini, Surya mengaku pernah memasukkan mata mayat yang sudah keluar.
"Itu yang saya bilang ada tekniknya. Waktu itu, ada yang matanya sudah keluar. Tetapi untungnya bisa dimasukkan lagi," kenang Surya.
Dikatakannya, tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah sakit tersebut, dan seringkali ia tidur di kamar mayat yang hendak dimandikan. Menurutnya ia tidak merasakan perasaan ngeri atau geli tidur sekamar bersama mayat.
"Saya waktu bulan puasa juga sahur disini (kamar mayat). Ada satu mayat waktu itu. Saya bilang, sahur dulu. Kan masih sama-sama orang. Bedanya dia diatas (keranda jenazah), saya duduk di ubin," tandasnya.
"Membersihkan jenazah itu ada teknik dan ilmunya sendiri. Saya pertama kali diajarkan oleh mertua saya. Kalau kondisi mayat yang matanya melotot, bagi saya sudah biasa," kata Surya yang sehari-harinya bekerja sebagai petugas pembersih mayat di RS Paru Goenawan Partowidigdo, Cisarua Bogor, Sabtu (11/2/2012).
Menurutnya mayat yang sudah dibersihkan haruslah matanya dalam kondisi tertutup. Mengenai pengalaman 'menutup mata mayat' ini, Surya mengaku pernah memasukkan mata mayat yang sudah keluar.
"Itu yang saya bilang ada tekniknya. Waktu itu, ada yang matanya sudah keluar. Tetapi untungnya bisa dimasukkan lagi," kenang Surya.
Dikatakannya, tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah sakit tersebut, dan seringkali ia tidur di kamar mayat yang hendak dimandikan. Menurutnya ia tidak merasakan perasaan ngeri atau geli tidur sekamar bersama mayat.
"Saya waktu bulan puasa juga sahur disini (kamar mayat). Ada satu mayat waktu itu. Saya bilang, sahur dulu. Kan masih sama-sama orang. Bedanya dia diatas (keranda jenazah), saya duduk di ubin," tandasnya.