Catatan Akhir Tahun
Infrastruktur Jalan Masih Dikeluhkan
INFRASTRUKTUR jalan, adalah satu di antara sekian banyak persoalan yang menjadi keluhan masyarakat selama 2011.
Editor:
Deddy Rachmawan
INFRASTRUKTUR jalan, adalah satu di antara sekian banyak persoalan yang menjadi keluhan masyarakat selama 2011.
Tentu masih ingat aksi pemblokiran jalan yang dilakukan warga di beberapa desa, baik di Kabupaten Bungo, Batanghari, hingga di Kota Jambi.
Begitu pun antrean panjang yang terjadi lantaran jalan rusak atau longsor, juga terjadi di beberapa daerah.
Rusaknya jalan, seiring dengan tingginya intensitas truk bermuatan batu bara yang melintas di ruas Jalan Lintas Sumatera.
Masyarakat di Kecamatan Bajubang masih merasakan buruknya infrastruktur jalan. Tidak heran jika beberapa waktu terakhir warga setempat memblokir jalan, dan mengadang truk bermuatan batu bara.
Kerusakan jalan akibat aktivitas pertambangan baru bara ini diakui oleh Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jambi Benhard Panjaitan beberapa waktu yang lalu.
"Tingkat kerusakan jalan provinsi kini sudah mencapai 65 persen lebih, dan itu cukup mengganggu kelancaran arus barang dan penumpang," ungkap Benhard Panjaitan, Mei lalu.
Kata Benhard, kerusakan juga dipicu oleh guyuran dan genangan air hujan, serta ramainya kendaraan yang melebihi tonase. Kerusakan jalan provinsi dan negara itu hampir terdapat di semua kota dan kabupaten, dan kerusakan terparah di Kabupaten Kerinci, Batanghari, Muarojambi dan Kota Jambi.
Selain menyebabkan kerusakan jalan, pertambangan batu bara juga diduga menjadi penyebab rusaknya lingkungan. Lokasi permukiman warga di Kecamatan Sumay yang dialiri Sungai Sekalo terancam banjir. Aliran Sungai Sekalo di kawasan tersebut, dipindahkan oleh perusahaan batu bara. Desa yang terancam banjir di antaranya, Muara Sekalo, Suo‑suo dan sejumlah desa di sekitarnya.
Pemindahan alur diduga dilakukan karena di kawasan aliran Sungai Sekalo kaya kandungan batu bara. Menurut keterangan warga, aktivitas pengerukan dan pemindahan sungai sudah berlangsung lama. "Sejak akhir 2009 lalu, sungai dikeruknya untuk mengambil batu bara. Kemudian mereka pindahkan alur sungai," kata warga setempat.
Harus diakui, Jambi memang kaya kekayaan alam, semisal batu bara.
Produksi batu bara Provinsi Jambi sangat besar. Dalam setahun diperkirakan mencapai empat juta ton. Kekayaan alam tersebut diperkirakan masih akan dapat dieksplorasi hingga puluhan tahun ke depan
Data Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jambi 2010 menyebutkan terdapat 337 perusahaan yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang tersebar di tujuh kabupaten. Sementara ada satu perusahaan yang berada di bawah provinsi.
"Sampai 2011 ini ada 337 izin usaha dan satu di provinsi," ujar Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jambi melalui Kasubag Program, Novaizal, (14/3).
Walaupun perusahaan‑perusahaan tersebut tersebar di tujuh kabupaten, namun potensi terbesar berada di Bungo. Kabupaten ini dapat memproduksi sekitar 60 persen dari total produksi seprovinsi.
Mengantisipasi agar produksi batu bara tetap berjalan, dan tidak merusak infrastruktur jalan, Pemprov Jambi tengah mempelajari untuk membangun jalan khusus untuk truk, atau memberdayakan sungai sebagai sarana transportasi.
Rencana pembangunan jalan khusus atau jalur sungai, diperkirakan Novaizal bisa menambah kapasitas eksplorasi batu bara. Ditilik dari sisi transportasi, misalnya tongkang lewat sungai 40‑50 kali lebih hemat dari truk. "Kapasitas tongkang 2.500‑5.000 ton, kalau truk cuma 30‑40 ton sekali angkut," jelasnya.
Dari data terakhir Dinas ESDM terbaca, ada 253 perusahaan yang memiliki izin eksplorasi dan 84 perusahaan dengan izin usaha produksi. (men/sud/ang/pit)