Jambore Nasional Bahasa dan Sastra

Bahasa Asing Dianggap Lebih Bergengsi

BERTEMPAT di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, seribu peserta dari 33 provinsi di Indonesia mengikuti Jambore Nasional Bahasa dan Satra.

Bahasa Asing Dianggap Lebih Bergengsi
koleksi pribadi
JUmardi Putra

Apalagi, pada pelaksanaan ujian nasional SMP/SMA, kegagalan ujian bahasa Indonesia mencapai 30 persen. Sebaliknya, kegagalan di ujian bahasa Inggris berkisar 5 persen. Di samping itu, hasil pantauan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa terkait indek sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia,terutama di kalangan anak-muda hanya 1,4 dari skala 5 (29/11).

Bagaimana denga para pejabat di negeri ini, baik di level eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Hemat saya, mereka juga ketularan penyakit sok-Inggris. Dalam hal ini, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Negara Lainnya mengharuskan untuk menggunakan bahasa Indonesia di dalam atau di luar negeri.

Nah, saat ini tinggal menunggu terbitnya peraturan Pemerintah (PP) turunan dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009. PP itu akan melahirkan perpres, dan kemudian peraturan menteri (permen) tentang pedoman penggunaan bahasa Indonesia.

Di samping itu, faktor lain yang patut dilirik adalah, penyampaian pelajaran bahasa Indonesia di
jenjang pendidikan formal yang tidak berorientasi maju karena lebih mementingkan target pencapaian nilai semata. Padahal, akan lebih baik jika para siswa diberi waktu untuk berdiskusi, berdebat, dan berkreasi dalam menulis serta membaca.

Dengan demikian, hasil pleno yang dibacakan pada malam puncak Jambore, buah karya dari diskusi tiga kampung (Nusa, Bangsa dan Bahasa), dengan melibatkan para ahli bahasa dan sastra, dalam istilah saya, merupakan bentuk Piagam Cibubur, yang pada dasarnya kembali mempertegas nasionalisme kebangsaaan melalui bahasa Indonesia.

Diakui penyelenggara, agenda berskala nasional ini baru pertama kali diadakan, sehingga terdapat kekurangan. Ambil misal, kehadiran peserta yang berkebutuhan khusus. Di satu sisi ini merupakan terobosan yang patut diacungi jempol, tetapi di lain sisi, jika tidak disiapi secara maksimal, baik persoalan ruang aktualisasi maupun kemudahan (fasilitas) selama kegiatan, maka keberadaan mereka sekedar pelengkap. Ke depan, kiranya kehadiran mereka bisa diwujudkan dalam berbagai macam ruang aktualisasi.

Terlepas dari kendala di atas, secara umum kegiatan ini bergizi tinggi. Dalam hal ini, kontingen Jambi, sebagaimana provinsi lain, mendapat kehormatan menampilkan keterampilan di bidang bahasa dan sastra, terkait kearifan lokal Jambi melalui medium Baca Puisi, Berbalas Pantun, Monolog, Baca Cerita Rakyat, dan Menyanyikan Lagu Daerah.

Hampir sepekan bermukim di tenda sederhana, tampaknya butir ketiga dari Sumpah Pemuda betul-betul mempertemukan seribu peserta Jambore yang berasal dari beragam daerah, yang sudah barang tentu bermacam pula latar belakang budaya, dan di saat yang sama, peserta mengukuhkan tekad bersama: Satukan Bangsa dengan Bahasa!.

Editor: esotribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved