Rabu, 10 Juni 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

50 Pejuang Tewas di Simpang Tiga Sipin

ALASAN pembangunan tugu juang di Simpang Tiga Sipin tak pelak karena keras dan pentingnya pertempuran saat itu

Tayang:
Penulis: mario | Editor: ridwan

Laporan wartawan Tribun Jambi Mario Eka
ALASAN pembangunan tugu juang di Simpang Tiga Sipin tak pelak karena keras dan pentingnya pertempuran saat itu. Berhasil atau tidaknya para pejuang lolos dari kepungan Belanda di Simpang Tiga Sipin ternyata mempengaruhi perjuangan selanjutnya.

Kisah perjuangan ini bersumber pada buku yang berjudul Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI (1945-1949) Di Provinsi Jambi yang disusun Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Provinsi Jambi.

Pascaagresi militer Belanda pertama, para pemimpin di Jambi sadar betul bahwa Belanda akan menyerang lagi. Analisa mereka akhirnya menjadi kenyataan.

Kota Jambi mendapat serangan penuh dari Belanda pada 29 Desember 1948. Pertempuran pun pecah di empat titik, yaitu di lapangan terbang Paal Merah (Bandara Sultan Thaha),  Kenali Asam, Tempino dan Bajubang.

Tujuan Belanda tak lain adalah mengurung Kota Jambi dan merebut pusat kota. Pada agresi tersebut, Belanda mengerahkan sekitar 40 pesawat pemburu P-51 Mustang dan Kitty Hawk serta bomber B-25.

Selain itu Belanda juga menerjunkan pasukan para (pasukan payung) melalui pesawat angkut Dakota. Agresi Belanda pun berhasil. Pos pertahanan milik TNI yang berada di Simpang Jelutung, Simpang Kawat dan Simpang Tiga Sipin dikuasai Belanda.

Melihat kondisi tersebut, setelah berjuang mempertahankan Kota Jambi sejak pukul 14.00, pimpinan sipil dan militer pun terpaksa mengambil keputusan untuk menarik diri dan pindah ke luar kota. Pusat komando militer dan pemerintahan Jambi pun berpindah tempat.

Untuk militer dipindahkan ke Bangko mendekati pusat komando TNI di Sumatera Selatan, sedangkan pemerintah sipil dipindah ke Rantau Ikil mendekati pemerintahan sipil di Sumatera Tengah.
Proses menarik diri pun berjalan penuh perjuangan.

Setidaknya 100 orang pejuang yang tengah berupaya keluar Kota Jambi mendapat hadangan di Simpang Tiga Sipin. Menurut laporan, lebih dari separuh atau setidaknya 50 orang pejuang tewas di Simpang Tiga Sipin.

Mereka terdiri dari pejuang Laskar Naspindo dan ibu-ibu petugas dapur umum yang tergabung dalam Komando Militer Kota (KMK).

Selanjutnya, sekitar pukul 21.00, operasi penarikan diri tersebut dituntaskan dengan operasi bumi hangus. Seluruh bangunan vital dibakar dan dihancurkan. Operasi bumi hangus tersebut juga berlaku pada bangunan milik militer.

Sejalan dengan operasi bumi hangus, Keur Corps (Kesatuan Pilihan) di bawah pimpinan Kapten A Bakar juga melakukan penarikan diri. Keur Corps ini berangkat dari Broni dan membawa tugas penting berupa mengamankan dokumen militer, persenjataan dan juga persediaan amunisi milik TNI Sub Territorium Djambi (sekarang Korem 042 Garuda Putih).

Dalam proses mengamankan dokumen dan menembus barikade Belanda di Simpang Tiga Sipin, komandan Keur Corps bersama beberapa perwiranya tewas tertembak. Selain itu, banyak pejuang mengalami luka ringan dan parah. Bahkan satu orang prajurit mengalami luka tembak yang menyebabkan tempurung lututnya pecah.

Meski puluhan dan mungkin ratusan pejuang dan perwira gugur di Simpang Tiga Sipin. Namun seluruh dokumen militer, persenjataan dan amunisi berhasil diselamatkan.

Tumpukan kertas, senjata dan amunisi yang selamat tersebut menjadi tumpuan dalam menyusun rencana dan aksi gerilya yang terus dilakukan pejuang kala itu. Dan hasilnya, secara nyata Indonesia merdeka dari penguasaan Belanda.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved