Reshuffle Kabinet
Hasyim Muzadi Ragukan SBY Berani Copot Menteri
TRIBUNJAMBI.COM- Reshuffle kabinet yang akan dilakukan Presiden SBY diyakininya tidak akan membawa perbaikan bagi kehidupan rakyat.
Editor:
Rahimin
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rahmat Hidayat
JAKARTA,TRIBUNJAMBI.COM -Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatu Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengungkap, kekuasaan di Indonesia saat ini sudah dikapling oleh partai politik dan sama sekali tidak menguntungkan rakyat. Sementara reshuffle kabinet yang akan dilakukan Presiden SBY diyakininya tidak akan membawa perbaikan bagi kehidupan rakyat.
"Kabinet presidentil rasa parlementer. Negara dikapling partai politik. Reshuffle kabinet pun tidak bisa keluar dari himpitan kabinet presidentil yang rasa perlementer itu," kata KH Hasyim Muzadi dalam pernyataannya, Sabtu (24/09/2011).
KH Hasyim Muzadi meragukan keberanian SBY mencopot seorang menteri. Kekuasaan, kritik Hasyim, seakan telah tersandera oleh kepentingan partai-partai anggota koalisi. Kalaupun berani SBY mengambil langkah luar biasa, posisinya di hadapan rakyat akan membaik meski harus melukai partai-partai.
"Makin takut dengan partai koalisi, SBY makin tidak populer di mata rakyat. Dan jangan terlalu sering mengobral janji kepada rakyat, termasuk soal reshuffle kabinet. Rakyat sudah bosan dengan janji-janji yang tidak terealisasi," kata Hasyim.
Alangkah baiknya, KH Hasyim Muzadi menyarankan kepada Presiden SBY untuk segera ambil langkah kongkrit untuk membenahi kekurangan yang ada demi rakyat.
"Masyarakat sekarang ini sudah bosan dengan akan, akan dan akan," katanya. Indonesia sekarang berada dalam keruwetan. Selain masalah ekonomi yang dihadapi rakyat, hukum masih jauh dari keadilan dan demokrasi rasa transaksional. Hukum di Indonesia menjadi tumpul ketika berhadapan dengan uang," kritik Hasyim.
Situasi yang tak menentu, katanya lagi, bisa menimbulkan keresahan di masyarakat. Bahkan, tak menutup kemungkinan berujung pada anarkisme
JAKARTA,TRIBUNJAMBI.COM -Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatu Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengungkap, kekuasaan di Indonesia saat ini sudah dikapling oleh partai politik dan sama sekali tidak menguntungkan rakyat. Sementara reshuffle kabinet yang akan dilakukan Presiden SBY diyakininya tidak akan membawa perbaikan bagi kehidupan rakyat.
"Kabinet presidentil rasa parlementer. Negara dikapling partai politik. Reshuffle kabinet pun tidak bisa keluar dari himpitan kabinet presidentil yang rasa perlementer itu," kata KH Hasyim Muzadi dalam pernyataannya, Sabtu (24/09/2011).
KH Hasyim Muzadi meragukan keberanian SBY mencopot seorang menteri. Kekuasaan, kritik Hasyim, seakan telah tersandera oleh kepentingan partai-partai anggota koalisi. Kalaupun berani SBY mengambil langkah luar biasa, posisinya di hadapan rakyat akan membaik meski harus melukai partai-partai.
"Makin takut dengan partai koalisi, SBY makin tidak populer di mata rakyat. Dan jangan terlalu sering mengobral janji kepada rakyat, termasuk soal reshuffle kabinet. Rakyat sudah bosan dengan janji-janji yang tidak terealisasi," kata Hasyim.
Alangkah baiknya, KH Hasyim Muzadi menyarankan kepada Presiden SBY untuk segera ambil langkah kongkrit untuk membenahi kekurangan yang ada demi rakyat.
"Masyarakat sekarang ini sudah bosan dengan akan, akan dan akan," katanya. Indonesia sekarang berada dalam keruwetan. Selain masalah ekonomi yang dihadapi rakyat, hukum masih jauh dari keadilan dan demokrasi rasa transaksional. Hukum di Indonesia menjadi tumpul ketika berhadapan dengan uang," kritik Hasyim.
Situasi yang tak menentu, katanya lagi, bisa menimbulkan keresahan di masyarakat. Bahkan, tak menutup kemungkinan berujung pada anarkisme
Berita Terkait