Smart Woman
Suka yang Detail dan Main Tumpuk
BANYAK pakaian tak sekadar pembungkus badan, juga memerelok penampilan pemakainya.
Penulis: kelik | Editor: Deddy Rachmawan
BANYAK pakaian tak sekadar pembungkus badan, juga memerelok penampilan pemakainya. Karena itu, tak jarang pakaian diperelok aneka cara, mulai dari modifikasi jahitan, sulam, bordir, pemasangan manik-manik maupun kristal, hingga paduan kain.
Dibalik semua itu ada tangan terampil penjahit. Dibalik itu lagi, ada sosok perancang busana alias desainer. Dari kepala serta coretan sosok semacam itulah datang aneka busana elok yang dijual umum di pasaran.
Di Satu Lorong
Jumat (10/6) sekitar pukul 17.20, Tribun mendatangi satu lorong di daerah Pasar, Kota Jambi. Pedagang kaki lima yang pada pagi dan siang hari biasa menggelar jualan mereka memenuhi lorong tersebut hampir semuanya telah berkemas dan menyingkir.
Di satu bangunan ruko berteras keramik warna cokelat, dari sebalik pintu besi geser kemudian muncul seorang gadis berbaju kuning. Neshya Kartika Sari, nama lengkap gadis berbaju kuning tersebut.
"Mari masuk," kata perempuan dua puluh tahun berpanggilan sehari-hari Nesya itu, yang lalu mengajak Tribun melintasi sisi depan bagian dalam ruko yang difungikan sebagai garasi.
Kami menuju ruang kecil yang satu sisinya berdinding dan berpintu kaca. Ruangan itu difungsikan sebagai workshop. Di sana ada komputer meja, mesin jahit, beberapa manekin terbalut gaun warna merah muda, foto dinding dua gadis remaja berpakaian gaun panjang warna hijau, sebuah lemari yang memajang gaun-gaun rancangannya, dan satu kursi sofa.
Sapta dan Dynand
Setelah obrolan basa-basi satu-dua menit, sulung dari lima bersaudara ini menunjukkan kepada Tribun bahwa gaun pada foto maupun manekin yang merupakan rancangannya.
Dua gaun warna merah muda berbahan satin dan sifon yang membungkus manekin merupakan gaun-gaun yang dikenakan dua adik kembarnya saat merayakan pesta ulang tahun pada Februari lalu.
Dua gaun hijau yang dipakai sepasang adik kembarnya dalam foto adalah sebagain gaun yang dikerjakan sebagai proyek tugas akhir sebelum lulus pada 2009 silam dari sekolah mode ESMOD Jakarta.
"Saya dari dulu memang sukanya merancang baju-baju pesta. Suka sama yang banyak detailnya, main tumpuk-tumpuk gitu," kata perempuan yang selama di ESMOD Jakarta mengambil kelas Woman Wear tersebut.
Ketertarikannya menjadi desainer busana sendiri berawal dari kegemarannya menggambar baju sejak SMP. Corat-coret kertas merancang baju bisa dilakukannya di mana saja, dari mulai untuk melayani pesanan orang, sampai ketika sedang duduk di bandara menunggu panggilan masuk pesawat.
Di ESMOD Jakarta yang merupakan jaringan dari 21 ESMOD di seluruh dunia itu, Nesya antara lain berguru kepada Sapta, yang merupakan pengarah dan perancang busana sejumlah artis seperti Agnes Monica.
Nesya juga diajar oleh Dynand Fariz, pelopor event akbar peragaan busana jalanan tahunan di Jember, Jawa Timur, yaitu Jember Fashion Carnival (JFC). (yoseph kelik)