Breaking News:

Nikmatnya Menyusuri Lempengan Tertua di Asia

Diperlukan waktu satu setengah jam dari Bangko untuk bergabung dengan para peneliti geologi dan arkelologi di Desa Air Batu, Kecamatan Bangko

Editor: Deddy Rachmawan
Nikmatnya Menyusuri Lempengan Tertua di Asia
ist
Geopark Merangin

Beberapa menit kemudian perahu merapat untuk mengusap fosil Cordaites sp dan Calamites sp tersebar di berbagai tempat. Mereka membeku dan membatu di sekitar situs tanpa meninggalkan bentuk aslinya walau diperlukan mata ahli untuk mampu mendeteksi mana batu berfosil mana yang tidak. Bagaikan seolah bersaksi, fosil ini adalah sejenis pandan zaman purba, di mana referensi mengidentifikasi jenis ini ditemukan tumbuh di periode 290‑299 juta tahun lalu.

Ini sebagai bukti nyata bahwa dahulunya Jambi di bentangan pulau Sumatera merupakan lempengan tersendiri yang disebut Blok Indochina yang berbeda umur maupun karakter dibanding provinsi lain.

Bahkan dari studi fosil ini bisa diketahui bahwa walaupun jenis tumbuhannya sama dengan yang di China. Keajaiban Tuhan dalam menciptakan Pulau Sumatera bisa dilacak dari sini. Sumatera sekarang ini merupakan gabungan lempengan-lempengan  yang bergeser mirip jika kita bermain puzzle.

Lepas dari pandan‑pandanan purba, perahu karet menyisir sisi kanan Sungai Merangin. Tampak gagah bukit‑bukit berhutan berdiri di atas batuan. Berbagai jenis pohon komersil seperti kempas, meranti, kayu manis dan lainnya berdiri kokoh dan masih perawan. Tak lama tampaklah seolah sebuah pokok kayu yang bersandar di pinggir sungai. Merapat semakin jelas bahwa pokok berwarna pucat tersebut adalah fosil Araucarioxylon, pohon masa lampau yang sudah tidak tumbuh lagi sekarang.

Mata ahli akan melihatnya lengkap dengan akarnya masih tampak utuh membatu dan abadi. Indah, penuh misteri dan berkharisma. Bagi yang bukan geologist atau ilmuwan memang cocok sebagai tempat berfoto ria. Di sekitarnya dapat ditemukan pula fosil keluarga pandan Gigantoperids. Tumbuhan yang merupakan makanan binatang purba.

Kedua perahu karet bergeser kembali masih menyisir sisi kanan sungai. Tiba-tiba kelompok batu granit menghilang dan diganti kelompok batuan hasil endapan pasir laut. Sebagai bukti batu akan berbuih bila ditetesi HCL. Ini membuktikan bahwa dataran tersebut pernah terendam lautan. Jadi di zaman itu Merangin pernah berada di bawah laut. Bukti nyata lagi yaitu ditemukan fosil kerang (Nautiloid dan Brachiopod) di beberapa tempat. Tanpa bimbingan ahli kita akan mengira ada kerang laut koq bisa hidup diperbukitan. Bahkan di tempat lain dapat juga ditemukan fosil tulang ikan hiu. Aneh tapi nyata.

Perahu melaju kembali, batuan laut menghilang dan tibalah kami di dataran lain dengan bukti adanya lapisan yang kaya batubara. Ssstt,,,, jangan sampai investor batu bara tahu sebab batu bara di situ adalah batu bara purba yang telah berumur ratusan jutaan tahun. Rata‑rata kemampuan panas batubara sekitar 6.000 ‑ 6.500 kalori namun di Jambi dapat ditemui batubara yang berkalori sampai 8.000. Tingkat panas yang hanya mampu dilepaskan oleh batubara berumur ratusan jutaan tahun. Ini juga bukti sejarah bahwa Jambi adalah dataran tertua. Di sekitarnya terdapat pula bukti lain yang ditemukannya pakis‑pakisan purba yang dengan aman terpateri sebagai fossil di batuan sungai.

Kemudian perahu karet bergeser menyeberang menyusur pinggir kiri sungai. Tampaklah pemandangan sangat indah. Air terjun yang jernih lebar mengalir deras dari bukit batuan yang cocok untuk bermain luncur, menggoda siapapun untuk berenang dan bermain air. Di bawahnya dapat dijumpai fosil‑fosil tunggul kayu jenis Psaronius sp yang hidup ratusan juta tahun lampau, lengkap dengan perakaran yang membatu namun masih menyimpan bentuk akar aslinya sungguh suatu spot wisata yang luar biasa elok.

Keluar lokasi tersebut, formasi batuan berganti dengan jenis endapan lava yang membuktikan bahwa sebelum ada Sungai Merangin wilayah tersebut merupakan gunung berapi yg telah meletus lima kali. Bukti juga ditunjukkan melalui fosil kayu yang menghangus akibat pijar letusan gunung api. Menuju Desa Teluk Wang, formasi batuan endapan semakin jelas.

Selama menyusur sungai beberapa kali perahu dihempas gelombang sehingga seperti laiknya kuda jingkrak ketika harus menerobos jeram yang tidak kurang ada sembilan titik. Beberapa kali penumpang non‑atlet cari selamat, turun dan berjalan menyusur tepi sungai.
Sungai ini menurut PAJI (Persatuan Arung Jeram Indonesia) pantas untuk lomba arung‑jeram nasional bahkan internasional karena ganas tantangannya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved