Smart Woman
Ade Pun Bergidik Membayangkannya...
Selasa 31 Mei, adalah hari anti tembakau internasional.
Penulis: kelik | Editor: Deddy Rachmawan
Alangkah indahnya dunia bagi para perokok pasif, jika pada hari itu, sehari itu saja, para perokok pasif di dunia ini benar-benar terbebas.
Kenyataannya, bagi sebagian besar warga, sulit untuk menemukan ruang beraktivitas yang bebas dari paparan asap tembakau tersebut. Hal ini juga yang terjadi di dunia seorang Ade Ismayanti.
Soal ini, Gadis 19 tahun tersebut berkata bahwa banyak orang sekitarnya memang perokok. Di lingkungan keluarga, kakek dan neneknya adalah penggemar barang hisapan berbahan utama tembakau itu.
Di lingkungan pekerjaan, penyiar di Radio GSP FM Jambi tersebut acap pula berinteraksi dengan perokok, baik laki maupun perempuan. Biasanya saat ia memandu acara off air di berbagai event.
Lucunya, beberapa kawan pria di lingkungan pekerja event itu justru kadang mengingatkan dirinya soal efek buruk merokok, antara lain mengenai susahnya berhenti dari kebiasaan mengisap sang sigaret. "Jangan merokok ya, Dik, cukup Abang bae lah yang merokok," tiru Ade seraya tersenyum lebar.
Terhadap teman ceweknya yang merokok, Ade pernah mencoba menanyai mereka. "Mereka seringnya bilang lagi ada masalah," ucap Ade mencoba menirukan alasan merokok yang diucapkan beberapa teman ceweknya.
Di mata Ade pilihan mengatasi beban pikiran dengan cara merokok justru bisa mendatangkan masalah baru. Itu antara lain berupa ketagihan.
Tak Segan Suruh Pindah
Ade menyatakan dirinya tergolong anti rokok. Kalau ada yang merokok di dekatnya, mahasiswi Unja ini tak segan membuat gerakan yang menunjukkan ketidaksukaannya. Antara lain dengan menangkupkan telapak tangan di sekitar mulut dan hidung.
Di kampus kala mengikuti kuliah, jika ada teman duduk di kursi yang berdekatan dengan dirinya lalu keluar kelas untuk merokok, Ade bakal mengernyit jika membaui aroma rokok sang kawan saat kembali duduk di dekatnya. Tak jarang, Ade tak segan meminta sang kawan untuk mau berpindah tempat duduk.
Meski tak menyangkal jika merokok memiliki sejumlah manfaat tertentu untuk pengisapnya, Ade yakin manfaat tersebut tak sebanding dengan jumlah efek buruk yang didapat.
Sepengamatannya, merokok juga mengganggu penampilan. Itu antara lain muncul lewat tampilan tubuh perokok yang kerap tak segar atau bahkan kurus kering, hingga bau tak sedap rokok yang sering menempel di pakaian.
Ia pun bahkan merasa tak cukup tertarik untuk menjajal shisa, rokok gaul ala Arab, yang diisap memakai selang dari tabung logam, satu di antara sajian yang ditawarkan di kafe-kafe. Biarpun shisa ini kerap dibilang sebagai jenis rokok yang berbeda dari rokok sigaret karena konon tak mengandung zat berbahaya semacam nikotin.
"Tetap saja kan ada asapnya yang masuk ke tubuh. Lama-lama bisa jadi gelembung-gelembung yang bikin pecah paru-paru," ucap Ade sedikit begidik menggambarkan efek buruk perilaku merokok menurutnya. (yoseph kelik)