Smart Woman
Kala Nina Membela Kartini
Sosok berpotongan rambut model bob tersebut berbusana kaos putih, bersanding ditemani sang pacar
Penulis: kelik | Editor: Deddy Rachmawan
Saat menyalami, Tribun sempat mengamati hidangan di atas meja, mereka berdua agaknya memang belum begitu lama mulai bersantap. Lebih lagi, melihat pramusaji datang mengantarkan hidangan tambahan, ada sedikit rasa tak enak menyelinap karena telah menginterupsi sebuah santap malam.
"Hmmm, di situ saja deh, Mas," ucap gadis yang wajahnya kerap wira-wiri di layar televisi itu, membacakan berita di Jambi TV, seraya bangkit dari kursinya, beranjak satu meja ke depan. Di tempat itulah, pemilik nama lengkap Nina Frafitri Sari, yang sehari-hari biasa dipanggil Nina ini, kemudian berbincang lebih kurang empat lima menit dengan Tribun.
Seabad Lampau
Bagian mula obrolan adalah tentang Raden Ayu (RA) Kartini, wanita ningrat Jawa yang terlahir 132 tahun silam, yang hidup singkat hingga usia 25 tahun saja. Terus terang, tentang putri Bupati Jepara dari zaman Hindia Belanda itu, Tribun dalam bincang-bincang itu sempat mencetuskan satu komentar setengah bercanda bahwa RA Kartini adalah figur yang besar karena proses mitologisasi secara resmi oleh pemerintah, antara lain dengan pendengung-dengungannya dalam pelajaran sejarah maupun kewarganegaraan di sekolah.
"Saya kira itu bukan cuma karena diulang-ulang sebagai pelajaran," ucap sulung dari dua bersaudara tersebut tak setuju dengan komentar kritis Tribun. Lebih kurang selama semenit sesudahnya, kalimat-kalimat pembelaan terhadap RA Kartini meluncur keluar dari bibirnya. Menurut mahasiswi Fakultas Ekonomi Unja, tindakan-tindakan yang dirintis Kartini sekitar seabad lampau bagaimanapun berkontribusi terhadap banyak peran aktif perempuan dalam masyarakat saat ini.
Maka pembelaan dari Nina lantas membawa Tribun mengingat kembali sosok RA Kartini dan figur geraknya sekitar seabad silam. Kontinyu membaca buku-buku serta berbagai terbitan media cetak asal Eropa, giat membagi buah pikirnya sebagai artikel maupun korespondensi dengan kolega, juga mengelola sekolah bagi kaum perempuan di Jepara dan Rembang, demikianlah figur seorang Kartini ketika itu. Dengan gambaran semacam itu, andainya Kartini hidup di zaman sekarang, putri Jawa satu ini tentulah seorang perempuan cerdas aktif lagi melek teknologi informasi.
Mencoba Sri Mulyani
SELEPAS mengobrol tentang Kartini Sang Raden Ayu, Tribun ganti melempar satu tanya yang lain kepada Nina Frafitri Sari. Pertanyaan tersebut ialah mengenai sosok perempuan masa kini yang menurut Nina layak dijadikan panutan.
Pertanyaan tadi ternyata lantas berbalas jawaban dengan cepat. Satu nama yang meluncur adalah Sri Mulyani.
"Dia itu menurut saya ya hebat saja, Mas," kata Nina kala mulai menjelaskan alasan di balik kekagumannya terhadap wanita berkacamata bernama lengkap Sri Mulyani Indrawati tersebut. Nina menyebut wanita 48 tahun itu hebat antara lain karena usai menanggalkan jabatan Menteri Keuangan (Menkeu) RI pada Mei 2010 lalu langsung saja bisa menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.
"Jarang kan orang Indonesia bisa menduduki jabatan setinggi itu, apalagi perempuan. Saya juga secara pribadi suka wanita yang kayak dia, cuek dan jaga imej, tapi memang punya prestasi," sambung gadis yang mengaku secara jujur sebagai orang yang cenderung teledor itu, kerap hampir meninggalkan dompet, juga pernah kehilangan ponsel sebanyak dua kali. Hanya saja, Nina sampai sekarang masih bertanya-tanya tentang cepatnya Presiden Yudhoyono menerima pengunduran diri Sri Mulyani dari posisi Menkeu hampir setahun silam.
Ditanya tentang pendapatnya soal selentingan bahwa Sri Mulyani merupakan satu di antara calon potensial presiden pasca era Yudhoyono, Nina sempat nyengir sejenak. Orang berlatar belakang ekonom seperti Sri Mulyani diyakini Nina bakal mumpuni di bidang pengelolaan ekonomi, manajemen, dan keuangan negara. Hanya saja, Sri Mulyani boleh jadi memang bakal punya kekurangan di bidang militer.
"Tapi, boleh juga dicoba. Nggak mesti juga kan presiden latar belakangnya angkatan, militer," kata Nina seraya tersenyum. (yoseph kelik)