Smart Woman

Tak Paham Bisa Kebablasan

KHITAN pada perempuan, yang biasa dilakukan sewaktu bayi, sempat dilarang

Tak Paham Bisa Kebablasan
tribunjambi/hanif burhani
dr Nadiyah SPOG

KHITAN pada perempuan, yang biasa dilakukan sewaktu bayi, sempat dilarang melalui surat edaran Menteri Kesehatan RI. Itu terjadi tiga empat tahun silam atau sekitar 2007 atau 2008. Menurut dr Nadiyah SpOG, dokter spesialis kandungan sekaligus pemilik Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Annisa Jambi, itu merupakan merupakan imbas dari beberapa kasus kekurangtepatan penanganan khitan perempuan.

"Alat kelamin wanita, apa lagi bayi kan sangat kecil, rumit, sehingga kalau tidak paham betul bagian mana yang digunting ya kebablasan," kata dokter alumnus Fakultas Kedokteran, juga Program Spesialis Kandungan, di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, Jawa Timur tersebut kepada Tribun di RSIA Annisa, Jalan Kabia nomor 04/RT 01, Kebun Handil, Jambi.

Menurut dokter berjilbab ini, kekurangtepatan penanganan dalam beberapa kasus itulah yang sempat memunculkan pandangan minus pada khitan perempuan, yakni sebagai tindakan yang membahayakan perempuan karena merupakan kekerasan dan menghasilkan trauma pada alat kelamin wanita. Ukuran mungil bagian yang ditangani dalam khitan perempuan inilah yang lebih menuntut perhatian ketimbang khitan pada laki-laki.

"Kalau alat kelamin laki-laki kan panjang, menonjol, yang dipotong kulit penutupnya jelas. Kalau pada wanita, daerah yang dipotong itu yang namanya Preputium cliitoridis. Padahal klitoris sendiri, padanan penis pada laki-laki, kecil cuma sebiji kacang, kalau anak kecil sekecil apa? Itu pun pada penutupnya saja yang digunting," ujar istri dri dr H Maulana serta ibu tiga anak tersebut lebih lanjut.

"Khitan pada perempuan itu sebenarnya lebih simpel. Satu menit saja juga sudah kelar. Tidak sakit. Anaknya paling nangis cuma kayak kejepit. Lagi pula, khitan pada perempuan itu kan nggak ada upacara-upacaranya seperti pada laki-laki," kata dr Nadiyah kala ganti menjelaskan bahawa penangangan khitan pada perempuan jika dikerjakan oleh tenaga medis berpengalaman justru akan lebih simpel dibanding khitan laki-laki.  Pasalnya, Preputium cliitoridis sebagai bagian yang dipotong pada khitan perempuan sebenarnya cuma selembar kulit ari tipis, yang digunting pun tidak berdarah.

"Pada petugas-petugas yang ndak ngerti, guntingnya kebanyakan. Itu yang bikin perdarahan banyak," kata dr Nadiyah tentang bagian yang menimbulkan kesalahpahaman tentang khitan pada perempuan.

Diperbolehkan Lagi
Saat ini, khitan pada perempuan kembali diperbolehkan berdasarkan surat edaran yang baru dari Menteri Kesehatan. Syaratnya adalah yang mengerjakannya adalah petugas medis berpengalaman, yang paham anatomi alat kelamin wanita sehingga tidak ada masalah.

Soal ini, tentu saja membuat tenaga medis seperti dr Nadiyah menjadi lebih nyaman dan percaya diri menjalankan profesi mereka. Para dokter tak mesti lagi terombang-ambing di antara kebingungan antara harus menaati aturan dari pemerintah atau menuruti kehendak pasien.
Pasalnya, selama dilarang pun, permintaan para orangtua agar bayi perempuan mereka disunat tak pernah surut. Ketika mencoba menolak permintaan mereka, dr Nadiyah mesti susah payah menjelaskan dan itu pun tak mesti berhasil. Bisa dibilang 100 persen orangtua bayi perempuan beragama Islam meminta anak mereka untuk disunat.

"Kalau ada yang tidak minta sunat itu biasanya karena lupa, tapi lalu ada yang ngingetin 'heh, anak kau perempuan jangan lupo disunat'," kata dr Nadiyah menirukan satu di antara pasiennya. Biasanya orangtua bayi perempuan meminta sunat bagi anak mereka sebulan selepas kelahiran dan berbarengan dengan penindikan. Lagi pula, menurut dr Nadiyah, andai para tenaga medis dilarang melakukan sunat perempuan, para orangtua malah ditakutkannya akan meminta pengerjaan sunat ke ke dukun-dukun, yang bisa jadi malah menjadikan tingkat kesalahan dalam sunat makin tinggi.
 
Sepengamatan dr Nadiyah, umumnya para orangtua khawatir jika bayi mereka tak disunat nantinya anak perempuan mereka itu bakal gete alias kegenitan, tidak mampu menjadi sosok perempuan yang sopan. Namun, bagi dr Nadiyah, ia lebih menekankan tentang sunat perempuan sebagai sunnah dalam Islam ketimbang soal gete.

"Kalau disunnahkan kan berarti ada manfaatnya?" ucap dr Nadiyah. Lagi pula, menurutnya, sunat perempuan memang bermanfaat menjadikan organ vital perempuan lebih bersih. Dikuranginya bagian yang yang menggelambir tentu saja akan meminimalkan terjadinya kerak-kerak putih di dalam organ vital perempuan.

Anak kedua dr Nadiyah sendiri seorang perempuan yang kini berusia tiga tahun yaitu Tiffany Aulinan. Putrinya ini ia khitankan pula. (yoseph kelik)  

Penulis: kelik
Editor: deddy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved