Mereka Hijrah dan Mendulang Sukses di Jambi
PELAKU industri tempe di Kota Jambi adalah potret mereka yang gigih berusaha.
Penulis: fendry | Editor: Deddy Rachmawan
Selamat sedang memantau kerja karyawannya yang sedang memproduksi tempe, ketika Tribun menyambanginya Rabu (9/2) siang. Dari sejumlah karyawannya itu, beberapa di antaranya masih memiliki pertalian darah.
Dulu, tepatnya 30 tahun lalu, ia juga serupa karyawannya. Ketika pertama datang ke Jambi dari kampungnya di Pekalongan, Jawa Tengah, ia bekerja sebagai tukang pembuat tempe. Setahun setelahnya, barulah ia membuat sendiri tempe tanpa bekerja lagi pada orang lain.
“Kini saya mampu memproduksi sekitar 850 kilogram tempe per hari. Sementara untuk tahu baik tahu goreng dan tahu putih bisa satu ton per hari,†ungkapnya di kediamannya Lorong Gembira, Kelurahan Rajawali, Kota Jambi.
Sayang, juragan tempe yang memiliki 17 orang karyawan itu enggan membeber omzetnya. Namun, ia menjadi satu di antara sejumlah pemasok tempe dan tahu di Pasar Angosudo dan Pasar Induk Talangbanjar. Bahkan, tempenya ia pasok ke Sengeti, Kabupaten Muarojambi dan ke Kualatungkal.
Dari usahanya itu, ia bisa menghidupi keluarganya. Mulai dari membangun rumah sendiri, memiliki mobil jenis pikap untuk kelancaran usahanya. Termasuk, membiayai pendidikan keempat anaknya.
Selamat mendapatkan bahan baku dari dalam Kota Jambi. Kini, ditengah naiknya harga kedelai ia masih mempertimbangkan apakah akan menaikkan harga tempenya atau tidak. “Biasaya harga kedelai Rp 5 ribu per kilogram, tapi sekarang bisa mencapai Rp 7 ribu per kilo,†bebernya.
Tidak jauh beda dengan Selamat, di kawasan itu ada Sodikin yang juga juragan tempe. Kisahnya tak jauh beda dengan Selamatt. Ia merantau ke Jambi dan bekerja dengan orang sebagai pembuat tempe sebelum akhirnya menjadi produsen sendiri.
Dalam sehari ia mampu memproduksi 75 kilogram tempe. Sodikin bilang, satu potong sepanjang dua meter, setara dengan berat sekitar 1 kilogram. Meski produksinya tak sebanyak Selamat, ia juga merupakan pemasok temped an tahun ke sejumlah pasar di Kota Jambi. Soal omzet, kata dia, sekitar Rp 750 ribu per hari.
Kampung Tempe
Selamat dan Sodikin, hanya contoh kecil juragan tempe di kota yang penduduknya heterogen ini. Menariknya, para bakul tempe ini umumnya berasal dari satu daerah, Pekalongan. Setelah sukses membangun usaha, mereka mengajak keluarganya serta untuk mencoba peruntungan dari penganan kaya protein ini.
Seperti di Lorong Gembira, tempat kediaman Selamat dan Sodikin. Di sana, para produsen tempe tinggal. “Pengusaha tempe dan tahu di sini masih saudara satu dan lainnya, termasuk juga satu kampung di Pekalongan,†tutur Sodikin. (fendry hasari)