Sepatu dari Anting-Anting sang Ibu
Ahmad Bustomi menerapkan sistem klasik sehingga cemerlang dilapangan bola, disiplin, tekun, santun pada setiap orang dan hormat kepada orang tua
Editor:
tribunjambi
TRIBUN - Para pemain klub sepak bola Arema Indonesia baru saja tiba di
lapangan sepak bola TNI-AU Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur,
Minggu (16/1). Salah satunya Ahmad Bustomi.
Sama seperti pemain lainnya, seperti biasa, Bustomi bersiap untuk latihan. Belum juga itu mulai, sejumlah penggemar sudah mengerubunginya untuk berfoto atau meminta tanda tangan.
Dengan hangat, pemain tengah itu membalas sapaan akrab para penggemarnya. Dia juga mengiakan permintaan wawancara Tribun, sore itu juga. "Oke, Mas, tapi aku tak latihan sek yo (Oke, Mas, tapi saya akan berlatih dulu ya)," katanya ramah.
Bustomi lantas berlatih selama 1,5 jam. Setelah kelar berlatih, ia langsung menghampiri Tribun. Namun, kerumunan penggemar yang rela menunggu dirinya selesai latihan sampai menjelang magrib tetap menjadi prioritas.
"Ayo, siji-siji. Antre yo. Gak oleh royokan (Ayo, satu per satu. Antre ya. Tidak boleh berebut)," katanya. Ia juga bercanda dengan para penggemar yang seluruhnya anak-anak dan remaja tersebut.
Setelah melayani permintaan tanda tangan dan berfoto bersama penggemar, Bustomi meminta mereka segera pulang. "Ayo, ndang moleh. Selak magrib. Engkok digoleki ibukmu lho (Ayo, segera pulang. Sebentar lagi magrib. Nanti dicari ibu kamu)," katanya lalu tersenyum.
Bustomi memang sedang moncer. Namanya populer menjadi buah bibir sejak sukses mengantar 'Singo Edan', julukan Arema Indonesia, menjuarai Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010. Apalagi dia juga bermain bagus dalam tim nasional (timnas), turut mengantar timnas menapak final AFF 2010 di bawah asuhan pelatih Alfred Riedl.
Awam bola
Jika melihat ke masa lalu, sepak terjang Bustomi di lapangan sepak bola saat ini bisa dibilang 'melenceng' dari tradisi keluarga. Bustomi bilang, keluarganya awam sepak bola, sederhana, bahkan pas-pasan.
Bustomi yang biasa dipanggil Tomi di lingkungan keluarganya itu mengenal sepak bola sejak sekolah desar. Dia baru serius berlatih bola ketika bersekolah di SMP Islam Singosari, Kabupaten Malang. Saat itu, Bustomi bergabung dengan sekolah sepak bola Universitas Brawijaya Malang (SSB Unibraw) 82.
Pagi hari, ia menebeng teman untuk pergi ke sekolah. Pulang sekolah, ia berjalan kaki, bahkan berlari ke rumah. Demikian juga saat ia harus berlatih di SSB Unibraw 82.
Dari rumahnya di Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, Kabupatan Malang, lagi-lagi Bustomi harus berjalan kaki atau berlari menuju lokasi latihan. Sesekali saja, sang ayah, Jumari, kini 50, bersepeda mengantarkan putra sulungnya itu. Meski lelah, ternyata Bustomi kecil tak mengeluh. Dia mati-matian memotivasi diri agar berhasil di sepak bola.
Dasar punya bakat, lelaki yang akrab disapa Cimot oleh teman-teman sebayanya itu terpilih menjadi anggota tim inti SSB Unibraw 82 dan selalu diikutkan dalam setiap kompetisi lokal. Pernah ia berambisi mendapatkan hadiah sepatu sebagai pemain terbaik, tapi gagal. Saat pertandingan Bustomi cedera setelah diganjal pemain lawan.
Bustomi sempat putus asa. Namun, ayahnya menyemangati. "Menjadi pemain sepak bola modalnya adalah fisik kuat. Oleh sebab itu, bentuklah fisikmu agar tetap bugar dan kuat," kata sang ayah. Pesan itu diingatnya sampai sekarang.
Jual anting-anting
Karena pesan ayahnya itu, Bustomi mulai lari setiap hari sejauh 11 kilometer. Kebiasaan pulang sekolah jalan kaki dan lari itu terus dilakoni hingga sekolah di MAN 1 Kota Malang.
Suatu ketika, seleksi pemain Persema Junior U-17 dibuka. "Mau (ikut) seleksi, tapi sepatu saya robek," kenangnya.
Hatinya resah dan gundah. Meminta uang dari kedua orang tuanya bukan perkara mudah. Jumari hanya bekerja sebagai tukang cat mobil.
Bustomi sadar, kedua orang tuanya irit karena terpaksa.
Namun, keyakinannya atas sepak bola tak terbendung lagi. Permintaan itu ia ucapkan juga kepada kedua orang tuanya.
Sang ibu, Sarmianti, turun tangan. Saat Bustomi sekolah, ibunya menjual sepasang anting-anting emas di Pasar Besar Malang. Laku Rp100 ribu.
"(Setelah saya) pulang sekolah, sepatu itu sudah ada. Saya sangat gembira dan bangga memiliki orang tua," tegasnya.
Dia lantas sungkem (salaman dengan mencium lutut dan kaki orang tua) sebelum seleksi. Bustomi berjuang dengan keras agar tidak mengecewakan orang tua. "Alhamdulillah (saya) masuk seleksi setelah bersaing dengan ratusan anak muda dari Malang," ceritanya.
Sampai sekarang, kebiasaan sungkem itu selalu ia lakukan dalam menjalani setiap latihan dan pertandingan.
Nyaris tak lulus
Kemampuan Bustomi terasah di Persema Junior. Ia membuktikan diri menjadi pemain yang selalu bermain sportif, fokus pada pertandingan, dan menjalani program latihan dengan baik. Namun sebagai siswa, perjalanan Bustomi tak semulus gelinding si kulit bundar.
Pada 2002-2003, saat Bustomi mengikuti program latihan di Persema Junior, ia sempat akan dikeluarkan dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Kota Malang. "Selama menggeluti sepak bola saya tidak masuk sekolah selama tiga bulan. Padahal menjelang ujian," katanya.
Lagi-lagi, sang ibu ambil bagian. Sarmianti menjelaskan kepada pihak sekolah sehingga Tomi tidak jadi dikeluarkan.
Langkah Bustomi pun melaju lagi. Setelah dari Persema Junior, ia menapak karier sebagai pemain profesional di Persema Malang bersama Bima Sakti. "Saya banyak belajar dari Mas Bima Sakti. Beliau sering memberikan masukan positif," tegasnya.
Bahkan setelah tidak di Persema, ia masih sering telepon atau sekadar kirim pesan singkat (SMS) kepada Bima Sakti untuk mendapatkan dukungan dan motivasi. Bustomi menggambarkan hubungannya dengan Bima sudah seperti adik kakak.
Saat ditemui Tribun di mes Persema, Rabu (19/1), Bima balik memuji Bustomi. "Kepribadiannya baik. Dia tipe anak yang enak diajak bicara. Saat di Persema kami selalu memberi masukan dan motivasi," kata kapten tim Persema Malang itu. Ia pun menunjukkan sejumlah pesan singkat dari Bustomi yang tersimpan di ponselnya.
Di mata Bima, keseharian Bustomi juga tidak berubah. Jujur, polos, menjaga sopan santun, dan mudah diajak bicara dengan siapa pun. Tak mengherankan jika Bustomi kebanjiran simpati, baik dari pendukung fanatik Persema, yakni Ngalamania, dan pendukung Arema, Aremania.
"Sekarang saya akan memperjuangkan Arema agar bisa bicara di kancah internasional (Liga Champion Asia)," kata Bustomi.
Dia juga masih menyimpan mimpi memperkuat timnas. "Kemarin itu juara dua AFF 2010, ya belum rezeki. Mendatang, saya ingin mengantar Indonesia jadi juara," katanya.
Sama seperti pemain lainnya, seperti biasa, Bustomi bersiap untuk latihan. Belum juga itu mulai, sejumlah penggemar sudah mengerubunginya untuk berfoto atau meminta tanda tangan.
Dengan hangat, pemain tengah itu membalas sapaan akrab para penggemarnya. Dia juga mengiakan permintaan wawancara Tribun, sore itu juga. "Oke, Mas, tapi aku tak latihan sek yo (Oke, Mas, tapi saya akan berlatih dulu ya)," katanya ramah.
Bustomi lantas berlatih selama 1,5 jam. Setelah kelar berlatih, ia langsung menghampiri Tribun. Namun, kerumunan penggemar yang rela menunggu dirinya selesai latihan sampai menjelang magrib tetap menjadi prioritas.
"Ayo, siji-siji. Antre yo. Gak oleh royokan (Ayo, satu per satu. Antre ya. Tidak boleh berebut)," katanya. Ia juga bercanda dengan para penggemar yang seluruhnya anak-anak dan remaja tersebut.
Setelah melayani permintaan tanda tangan dan berfoto bersama penggemar, Bustomi meminta mereka segera pulang. "Ayo, ndang moleh. Selak magrib. Engkok digoleki ibukmu lho (Ayo, segera pulang. Sebentar lagi magrib. Nanti dicari ibu kamu)," katanya lalu tersenyum.
Bustomi memang sedang moncer. Namanya populer menjadi buah bibir sejak sukses mengantar 'Singo Edan', julukan Arema Indonesia, menjuarai Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010. Apalagi dia juga bermain bagus dalam tim nasional (timnas), turut mengantar timnas menapak final AFF 2010 di bawah asuhan pelatih Alfred Riedl.
Awam bola
Jika melihat ke masa lalu, sepak terjang Bustomi di lapangan sepak bola saat ini bisa dibilang 'melenceng' dari tradisi keluarga. Bustomi bilang, keluarganya awam sepak bola, sederhana, bahkan pas-pasan.
Bustomi yang biasa dipanggil Tomi di lingkungan keluarganya itu mengenal sepak bola sejak sekolah desar. Dia baru serius berlatih bola ketika bersekolah di SMP Islam Singosari, Kabupaten Malang. Saat itu, Bustomi bergabung dengan sekolah sepak bola Universitas Brawijaya Malang (SSB Unibraw) 82.
Pagi hari, ia menebeng teman untuk pergi ke sekolah. Pulang sekolah, ia berjalan kaki, bahkan berlari ke rumah. Demikian juga saat ia harus berlatih di SSB Unibraw 82.
Dari rumahnya di Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, Kabupatan Malang, lagi-lagi Bustomi harus berjalan kaki atau berlari menuju lokasi latihan. Sesekali saja, sang ayah, Jumari, kini 50, bersepeda mengantarkan putra sulungnya itu. Meski lelah, ternyata Bustomi kecil tak mengeluh. Dia mati-matian memotivasi diri agar berhasil di sepak bola.
Dasar punya bakat, lelaki yang akrab disapa Cimot oleh teman-teman sebayanya itu terpilih menjadi anggota tim inti SSB Unibraw 82 dan selalu diikutkan dalam setiap kompetisi lokal. Pernah ia berambisi mendapatkan hadiah sepatu sebagai pemain terbaik, tapi gagal. Saat pertandingan Bustomi cedera setelah diganjal pemain lawan.
Bustomi sempat putus asa. Namun, ayahnya menyemangati. "Menjadi pemain sepak bola modalnya adalah fisik kuat. Oleh sebab itu, bentuklah fisikmu agar tetap bugar dan kuat," kata sang ayah. Pesan itu diingatnya sampai sekarang.
Jual anting-anting
Karena pesan ayahnya itu, Bustomi mulai lari setiap hari sejauh 11 kilometer. Kebiasaan pulang sekolah jalan kaki dan lari itu terus dilakoni hingga sekolah di MAN 1 Kota Malang.
Suatu ketika, seleksi pemain Persema Junior U-17 dibuka. "Mau (ikut) seleksi, tapi sepatu saya robek," kenangnya.
Hatinya resah dan gundah. Meminta uang dari kedua orang tuanya bukan perkara mudah. Jumari hanya bekerja sebagai tukang cat mobil.
Bustomi sadar, kedua orang tuanya irit karena terpaksa.
Namun, keyakinannya atas sepak bola tak terbendung lagi. Permintaan itu ia ucapkan juga kepada kedua orang tuanya.
Sang ibu, Sarmianti, turun tangan. Saat Bustomi sekolah, ibunya menjual sepasang anting-anting emas di Pasar Besar Malang. Laku Rp100 ribu.
"(Setelah saya) pulang sekolah, sepatu itu sudah ada. Saya sangat gembira dan bangga memiliki orang tua," tegasnya.
Dia lantas sungkem (salaman dengan mencium lutut dan kaki orang tua) sebelum seleksi. Bustomi berjuang dengan keras agar tidak mengecewakan orang tua. "Alhamdulillah (saya) masuk seleksi setelah bersaing dengan ratusan anak muda dari Malang," ceritanya.
Sampai sekarang, kebiasaan sungkem itu selalu ia lakukan dalam menjalani setiap latihan dan pertandingan.
Nyaris tak lulus
Kemampuan Bustomi terasah di Persema Junior. Ia membuktikan diri menjadi pemain yang selalu bermain sportif, fokus pada pertandingan, dan menjalani program latihan dengan baik. Namun sebagai siswa, perjalanan Bustomi tak semulus gelinding si kulit bundar.
Pada 2002-2003, saat Bustomi mengikuti program latihan di Persema Junior, ia sempat akan dikeluarkan dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Kota Malang. "Selama menggeluti sepak bola saya tidak masuk sekolah selama tiga bulan. Padahal menjelang ujian," katanya.
Lagi-lagi, sang ibu ambil bagian. Sarmianti menjelaskan kepada pihak sekolah sehingga Tomi tidak jadi dikeluarkan.
Langkah Bustomi pun melaju lagi. Setelah dari Persema Junior, ia menapak karier sebagai pemain profesional di Persema Malang bersama Bima Sakti. "Saya banyak belajar dari Mas Bima Sakti. Beliau sering memberikan masukan positif," tegasnya.
Bahkan setelah tidak di Persema, ia masih sering telepon atau sekadar kirim pesan singkat (SMS) kepada Bima Sakti untuk mendapatkan dukungan dan motivasi. Bustomi menggambarkan hubungannya dengan Bima sudah seperti adik kakak.
Saat ditemui Tribun di mes Persema, Rabu (19/1), Bima balik memuji Bustomi. "Kepribadiannya baik. Dia tipe anak yang enak diajak bicara. Saat di Persema kami selalu memberi masukan dan motivasi," kata kapten tim Persema Malang itu. Ia pun menunjukkan sejumlah pesan singkat dari Bustomi yang tersimpan di ponselnya.
Di mata Bima, keseharian Bustomi juga tidak berubah. Jujur, polos, menjaga sopan santun, dan mudah diajak bicara dengan siapa pun. Tak mengherankan jika Bustomi kebanjiran simpati, baik dari pendukung fanatik Persema, yakni Ngalamania, dan pendukung Arema, Aremania.
"Sekarang saya akan memperjuangkan Arema agar bisa bicara di kancah internasional (Liga Champion Asia)," kata Bustomi.
Dia juga masih menyimpan mimpi memperkuat timnas. "Kemarin itu juara dua AFF 2010, ya belum rezeki. Mendatang, saya ingin mengantar Indonesia jadi juara," katanya.