Ribuan Nelayan Tidak Berani Melaut
Ribuan atau sekitar 70 persen nelayan di Kabupaten Tanjabbar, kawasan pantai timur tidak melaut karena ombak besar
TANJUNG JABUNG BARAT, TRIBUN - Ribuan atau sekitar 70 persen nelayan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, kawasan pantai timur tidak melaut karena ombak besar yang ketinggiannya mencapai tiga meter lebih.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Zabur Roestam di Jambi, Selasa (18/1/2011) mengatakan, sedikitnya 2.000 nelayan di daerahnya tidak melaut, karena ombak besar.
"Nelayan itu tidak bisa melaut, karena kapal atau alat tangkap yang mereka miliki kecil, berukuran di bawah 5 GT, yang mudah terbalik diterpa gelombang," katanya.
Di daerahnya terdapat sekitar 3.000 nelayan dengan jumlah alat tangkap sekitar 1.200 unit, di mana dari jumlah kapal dan alat tangakp tersebut, 80 persen berukuran di bawah 5 GT.
Ketinggian ombak di atas tiga meter itu, sagat rawan menimbulkan kecelakaan, sehingga nelayan yang memiliki kapal dan alat tangkap di bawah 5 GT lebih memilih tidak melaut, kalau pun melaut mereka tidak berani jauh atau hanya di bibir pantai.
Kapal dan alat tangkap di bawah 5 GT wilayah tangkapannya pun tidak bisa di atas 12 mil laut, apalagi yang satu GT, hanya bisa di bawah lima mil laut.
Nelayan yang memili alat tangkap dan kapal kecil itu, bila tetap ingin melaut juga melihat cuaca, dan hanya setengah hari, yakni pagi hingga siang hari.
Kapal dan alat tangkap di atas 30 GT yang jumlahnya kini sekitar 35 unit tidak terpengaruh atau masih bisa mengatasi ombak setinggi empat meter, sehingga tetap melakukan aktivitasnya hingga ke laut lepas.
Nelayan yang tidak melaut, kini lebih banyak menghabiskan harinya untuk memperbaiki alat tangkap dan kapal mereka yang rusak menjelang cuaca normal.
"Mereka juga terus dibina supaya memanfaatkan waktu mereka mengolah hasil produksi yang ada menjadi barang jadi atau setengah jadi, kata Zabur Roestam.