Pembatasan BBM Lebih Baik dari Premium
Desakan sejumlah kalangan agar pemerintah tak ragu menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi
JAKARTA, TRIBUN - Desakan sejumlah kalangan agar pemerintah tak ragu menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi (premium) dinilai sebagai langkah kontra produktif terhadap industri otomotif nasional. Opsi tersebut memiliki dampak lebih dalam, baik terhadap pelaku otomotif maupun konsumen (masyarakat), ketimbang rencana pembatasan premium yang mulai digulirkan akhir Maret 2011.
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto menjelaskan, pengalihan kendaraan pribadi dari premium merupakan langkah tepat untuk mengurangi subsidi pemerintah terhadap BBM bersubsidi ketimbang menaikkan harga (premium) meski tren harga minyak cenderung merangkak.
Jika harga premium yang dinaikkan, situasi ini akan berdampak pada ongkos distribusi seluruh industri nasional bukan cuma otomotif. Pasalnya, transportasi juga akan terkena lonjakkan harga.
"Kalau pembatasan bbm yang dilakukan, beban transportasi tak berubah karena masih boleh menggunakan premium. Tapi, dalam waktu yang sama subsidi berkurang karena volume konsumsi premium berkurang signifikan (peralihan kendaraan pribadi)," jelas Jongkie menjawab Kompas.com di Jakarta (9/1/2011).
Yang perlu dikhawatirkan lonjakkan harga minyak dunia yang dampaknya sudah dirasakan saat ini dengan harga pertamax mencapai Rp7.500 per liter (Jakarta). Bahkan sejumlah pengamat menyatakan jika harga minyak dunia menyentuh 100 dollar AS per barel maka pertamax bisa menjadi Rp8.500-9.000 per liter.
"Memang harga minyak mentah lagi menanjak dan kita harap kondisi ini segera surut agar peralihan premum ke pertamax bisa lebih mulus," harap Jongkie.
Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Sudirman Maman Rusdi menambahkan, perbedaan jarak harga antara premium dan pertamax yang terpaut jauh bisa meningkatkan biaya operasional harian sehingga menekan daya beli masyarakat. Khusus sektor otomotif, situasi ini bisa menunda sejumlah konsumen membeli mobil baru karena tak sanggup menambah biaya beban harian.
"Pasti akan ada perlambatan. Hanya seberapa besar dampaknya masih harus diteliti lebih jauh lagi," ujar Sudirman.