Waspadai Enam Faktor Pemicu Inflasi
Kantor Bank Indonesia Jambi meyakini, angka inflasi Kota Jambi sepanjang triwulan IV 2010 bakal terus naik.
Penulis: fendry | Editor: Deddy Rachmawan
Mengutip buku Kajian Ekonomi Regional (KER) triwulan III tahun ini, bahkan BI menyebut akibat tekanan itu akan menyebabkan perkiraan inflasi keluar dari sasaran. Laporan yang ditandatangani Pemimpin BI Jambi Iing M Hasanudin itu menyebutkan akan ada peningkatan demand masyarakat terhadap kebutuhan barang dan jasa.
“Itu terutama terkait dengan datangnya perayaan hari besar keagamaan (Idul Adha dan Natal) serta tahun baru 2011,†tulis laporan BI. Selain itu, faktor lainnya adalah menurunnya suku bunga perbankan sehingga dapat memicu meningkatnya konsumsi masyarakat. Lalu, akselerasi belanja pemerintah daerah yang semakin cepat dapat memicu kenaikan harga barang-barang material dan jasa tukang.
Selanjutnya, BI menyebutkan kondisi infrastruktur (jalan, jembatan) yang masih terkendala akan meningkatkan biaya distribusi dan transportasi barang dan jasa, kondisi cuaca di musim pancaroba dapat menjadi ancaman dalam produksi pertanian dan pendistribusian barang. Terakhir, pemicu inflasi lainnya adalah potensi kenaikan harga minyak mentah dunia yang diikuti pergerakan harga.
Sementara, rilis bulanan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi menyebutkan, pada November ini inflasi di Kota Jambi mencapai 1,18 persen. Hal ini diakibatkan adanya kenaikan harga kelompok barang dan jasa.
Inflasi terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 2, 68 persen, kelompok bahan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 1,68 persen, kelompok sandang sebesar 0,45 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,22 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 0,01 persen serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keungan sebesar 0,20 persen.
"Sementara kelompok perumahan, air, listrik gas, dan bahan bakar terjadi deflasi yaitu sebesar 0,04 persen," kata Dyan Pramono Efendi, Kepala BPS Provinsi Jambi, Rabu (1/12).
Dikatakannya, ada 10 komuditi utama yang menyumbang terhadap terjadinya inflasi pada November. Yakni, cabai merah, bawang merah, minyak goreng, beras, nasi bungkus, ayam goreng, gado-gado, kacang panjang, dan gula pasir.
Dibandingkan inflasi di pulau Sumatera, inflasi di Kota Jambi berada pada urutan tujuh. Adapun tertinggi terjadi di Kota Lhokseumawe sebesar 2,64 persen, dan terendah di Kota Batam sebesar 0,41 persen.
Terpisah, Dr Syurya Hidayat, pengamat Ekonomi dari Unja mengatakan, inflasi pada kelompok bahan makanan terjadi karena dua hal. Pertama produksi yang rendah jika dibandingkan dengan tingkat permintaan, sehingga barang tersebut sulit didapatkan. Kedua, karena terhambat di saluran distribusi. “Sehingga barang-barang menumpuk, dan pedagang bisa memainkan harga, dan juga yang lebih untung pedaganganya bukan dari petaninya,†katanya. (dry/wan)