Kamis, 7 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Editorial

Kemarau Tiba, Siap-siap Hadapi Hotspot

Berkaca pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, wilayah Sumatera terutama Jambi, Palembang dan Riau menjadi kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan.

Tayang:
Editor: Deddy Rachmawan
Istimewa
Anggota satgas karhutla di lokasi kebakaran PT Pesona Belantara Persada yang berada di Desa Betung, Kecamatan Kumpeh Ilir, Kabupaten Muarojambi, Minggu (7/10/2018). 

WAKTU puncak musim kemarau di Provinsi Jambi telah tiba.

Beberapa tahun terakhir, kisaran Juli hingga Agustus merupakan titik puncak musim.

Memasuki waktu-waktu ini artinya banyak harus mulai serius diperhatikan, dari ancaman kebakaran lahan, persediaan air, ketahanan tubuh-kesehatan dan banyak hal lain.

Pada titik ini, baik manusia dan satwa mulai waspada karena saling terkait dengan alam.

Berkaca pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, wilayah Sumatera terutama Jambi, Palembang dan Riau menjadi kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan.

Masih lekat di ingatan, kondisi karhutla parah terjadi pada 2015.

Kala itu kabut asap membekap Jambi, aktivitas masyarakat terganggu.

Penyakit gangguan saluran pernapasan menyerang banyak orang, hingga berdampak ke penyakit lain. Bandara ditutup sekira tiga bulan hingga ribuan penerbangan batal.

Selain secara ekonomi Provinsi Jambi mengalami kerugian triliunan, terjari sederet kerugian yang tercatat.

Pertengahan Juni 2019, BMKG memantau kemunculan hotspot alias titik panas di Jambi. Jumlahnya memang tidak banyak dan hanya ada di daerah tertentu.

Kemunculan hotspot ini tentu mengirimkan pesan supaya seluruh pihak mulai berjaga-jaga. Jangan sampai titik panas itu berubah menjadi titik api kebakaran.

baca juga

Baca: Empat Desa Program Bebas Api di Jambi Dapat Penghargaan Rp 350 Juta dari Asian Agri Tekan Karhutla

Baca: Ini Kabupaten Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan menurut BPBD Jambi

Baca: 2 Titik Api Terpantau di Kabupaten Tanjab Barat, BPBD Imbau Petani Buat Kanal Air

Apabila itu terjadi, dampak yang timbul bukan hanya pada masyarat daerah itu, melainkan daerah-daerah tetangga, bahkan negara tetangga.

Instansi terkait, pemda, BPBD dan BMKG memang belum menetapkan status siaga atas munculnya hotspot.

Namun langkah antisipasi sebaiknya dilakukan sejak awal, dengan memberi 'peringatan' datangnya puncak kemarau dan kemunculan hotspot.

Jejaring pemantauan karhutla sebaiknya diperkuat, dari pemerintah, masyarakat, NGO bahkan perusahaan.

Kerja sama sesuai dengan porsinya bisa dilakukan untuk kepentingan bersama. Jangan sampai kabut asap membekap Jambi lagi. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved