Rumahnya Miring, Dua Tahun Wak Boyah Minta Bedah Rumah: Jangankan Baiki Rumah untuk Makan Saja Susah

Rumah papan milik warga di RT 07, Desa Tunas Baru, Muarojambi miring. Wak Boyah mengaku tak sanggup perbaiki rumahnya.

Rumahnya Miring, Dua Tahun Wak Boyah Minta Bedah Rumah: Jangankan Baiki Rumah untuk Makan Saja Susah
Tribunjambi/Samsul Bahri
Kondisi rumah milik warga di RT 07, Desa Tunas Baru, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muarojambi. 

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI-Program Bedah Rumah untuk mengetaskan warga dari kemiskinan di Kabupaten Muarojambi belum sepenuhnya menyasar ke masyarakat kurang mampu. Ini dilihat dari tiga rumah milik warga di RT 07, Desa Tunas Baru, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muarojambi.

Rumah milik warga tersebut dapat dikategorikan sebagai rumah tidak layak huni ini, namun tidak kunjung mendapatkan perhatian dari Desa maupun pemerintah Kabupaten Muarojambi. Bahkan menurut pengakuan pemilik rumah sudah dua tahun mengusulkan untuk dapat perbaikan rumah, namun tak dapat.

"Setahun belakangan ini lah ada dari pihak desa data rumah ini. Di foto-fotonya lah rumah ini, tapi sampai sekarang belum ado jugo nampaknyo mau dibaikin rumah ini," jelas Wak Boyah salah satu pemilik rumah di RT 7, Tunas Baru.

Pantauan Tribunjambi.com, kondisi bangunan rumah yang terbuat dari papan tersebut tampak miring karena sebagian tiang sudah rapuh di makan rayap.

Baca: PTUN Jambi Menangkan Gugatan Caleg di Sarolangun dan Merangin, KPU Jambi Beri Signal untuk Eksekusi

Baca: Dapat Bantuan dari Kementerian Rp 4 Miliar, Kios dan Los Pasar Parit I Kuala Tungkal Akan Dibangun

Baca: Wali Kota Sungai Penuh Ancam Potong TPP ASN yang Nambah Libur Usai Pemilu 2019

Baca: Jalan Penghubung Tiga Desa di Tanjab Barat Rusak Parah, Banyak Kubangan Air di Tengah Jalan

Baca: Caleg Nasdem Diduga Lakukan Politik Uang, Bawaslu Batanghari Terima Bukti Amplop Berisi Uang Rp25000

"Atap jugo lah bolong-bolong, apolagi kalo hujan. Masuk lah ari hujan ke dalam rumah. Kito nak baikin dewek dak sanggup, jangankan nak baikin rumah, untuk makan be awak susah," ungkap Wak Boyah.

Kata Wak Boyah, rumahnya tak kunjung diperbaiki karena akses jalan menuju rumahnya yang sulit. Namun, menurutnya itu bukanlah alasan, karena jika memang kendala itu, maka Ia bersedia mengambil material bangunan dari tempatnya.

"Pas kito dengar kek gitu yo sudahlah. Mungkin bukan rezeki sayo, mungkin rezeki kawan lain. Sekarang pasrah lah, berharap lah masih ado bantuan, tapi nak diapokan lah. Kito baikin seadonyo be rumah ni, semampu kito, ado kayu-kayu bekas kito pakek," ucapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Sopi. Ia mengatakan bahwa sempat di data dan juga telah mengajukan kepada pemerintah desa untuk mendapatkan bantuan bedah rumah.

"Tapi ini rumah kontrak jadi dak bisa, kemudian ada tanah saya, tapi di tolak juga karena belum ada pondasi rumah di atasnya," jelas pria berkerbutuhan khusus itu.

Sama halnya dengan Boy Sandi, warga setempat yang juga dijanjikan mendapat bantuan bedah rumah. Namun hingga saat ini tidak kunjung direalisasi dengan alasan yang sama, padahal Ia pindah rumah jaraknya hanya satu meter dan telah memiliki pondasi.

"Di bilangnya tidak bisa, dan di suruh nunggu. Itu tahun kemarin, sampai sekarang itu tidak ada juga realisasinya. Jadi kami harapkan lah, kepada pemerintah untuk bisa memberi bantuan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan," pungkasnya.

Penulis: syamsul
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved