Fasha Beberkan Kerugian PDAM Tirta Mayang Sampai Rp 11 Miliar Hingga Hampir Kolaps

Menaikkan tarif PDAM Tirta Mayang adalah satu-satunya solusi yang harus diambil agar pelayanan air bersih di Kota Jambi tetap bisa dilakukan.

Fasha Beberkan Kerugian PDAM Tirta Mayang Sampai Rp 11 Miliar Hingga Hampir Kolaps
tribunjambi/rohmayana
Walikota Jambi Syarif Fasha 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Menaikkan tarif PDAM Tirta Mayang adalah satu-satunya solusi yang harus diambil agar pelayanan air bersih untuk masyarakat Kota Jambi tetap bisa dilakukan.

Hal ini disampaikan Syarif Fasha, Wali Kota Jambi dalam keterangannya pada Kamis (4/4/2019).

Fasha mengatakan, sejak 2015 PDAM Tirta Mayang terus mengalami kerugian. Hingga tahun 2018, kerugian yang dialami mencapai Rp 11 miliar.

Sehingga solusi agar PDAM tetap bisa melayani kebutuhan air bersih di Kota Jambi adalah dengan cara menaikkan tarif.

"Sejak 2015 mengalami kerugian, 2018 Rp 11 miliar kerugian. Bulan Agustus PDAM menghadap kami, dan PDAM harus menaikkan tarifnya," kata Fasha.

Baca: Kabar Gembira bagi Pelanggan PDAM di Kota Jambi, Mei Tarif PDAM Tirta Mayang Turun, Ini Rinciannya

Baca: 14.500 Sambungan Pelanggan PDAM di Kota Jambi Hanya Jadi Cadangan Air Sumur

Baca: Pemerintah Ingkar Beri Lahan, Kini Pemukiman Warga Tebing Jaya Justru Diserobot Pengusaha Sawit

Baca: Kompetisi Ikan Louhan 2019 Berlangsung di Lippo Plaza Jambi, Pamerkan Si Cantik Berdahi Jenong

Baca: Lagi Musim Hujan, Yuk Merapat ke Ricks Kitchen, Ada Tiga Bakso Baru yang Perlu Dicicipi

"Apabila PDAM tidak diberikan suntikan dana Oktober 2018 kolep tidak bisa operasi karena tidak ada dana. Agustus pemkot tidak bisa mensubsidi. Maka solusi satu-satunya menaikkan tarif," ujar Fasha.

Fasha juga mengatakan, jika sebelumnya tarif PDAM Tirta Mayang hanya Rp 2.000 tidak bisa menutupi besarnya pengeluaran. Terutama untuk biaya operasional yang besarnya mencapai Rp 8 miliar per tahunnya.

Biaya pengeluaran terbesar kata Fasha juga muncul dari perbaikan kebocoran pipa. "Pipanya sudah tua, usianya pun sudah diatas 15 tahun dan bahannya dari asbes ini sangat mudah bocor," katanya.

Selain itu untuk melakukan perbaikan kata Fasha cukup sulit karena tidak ada peta jalur pipa sejak dulu. Sehingga lokasi kebocoran baru bisa terdeteksi setelah adanya laporan kebocoran dari masyarakat.

Belum lagi kasus pencurian Air yang juga cukup tinggi, selain itu persentase kebocoran mencapai 40 persen dan hal ini lah yang diklaim Wali Kota Jambi memunculkan biaya yang cukup besar.

Hingga akhirnya PDAM melalui persetujuan Wali Kota Jambi harus menaikkan tarif melalui peraturan Wali Kota nomor 45 tahun 2018 yang ditetapkan pada Agustus 2018 tentang kenaikan tarif air minum PDAM Tirta Mayang.

"Sebelum kenaikan, Kami perintahkan sosialisasi ke 11 kecamatan. Hasil sosialisasi tidak ada yang memprotes," kata Fasha.

"Tarif 2 ribu ke 4 ribu pada saat itu warga hanya meminta agar kwalitas air bersih diperbaiki dan kontinuitas tidak macet-macet itu juga usulan dari masyarakat," kata Fasha.

Baca: Angka Kecelakaan di Tanjab Timur Meningkat, Banyak Remaja Meninggal di Dua Daerah Rawan Ini

Baca: Akui Miliki Bukti, Kapolres Sarolangun Minta Pelaku Pembakaran Camp PT Samhutani Serahkan Diri

Baca: Gara-gara Tak Sampaikan Laporan Pencairan, TPP untuk Ribuan Guru di Batanghari Tertahan

Baca: Bupati Bungo Mengaku Sedih dan Prihatin, Tiga Kades Diberhentikan Karena Tak Transparan

Baca: Dua Fraksi Mangkir Sampaikan Pandangan Umum LKPJ Bupati Tanjab Barat, Rapat Paripurna Dua Kali Tunda

Fasha menyampaikan permohonan maafnya kepada warga Kota Jambi atas kebijakan ini. Namun ia mengatakan, upaya pelayanan dan perbaikan kwalitas akan terus dilakukan.

"PDAM Tirta Mayang juga sudah membuka layanan informasi yang akan direspon secara cepat. Jika ada permasalahan silakan sampaikan, jika tidak ditanggapi sampaikan ke saya," pungkas Fasha.

Penulis: Dedy Nurdin
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved