Doktor Termuda di Jambi Ini Bercita-Cita Memiliki Gelar Professor

Sodiah merupakan alumni dari UIN STS Jambi. Ia berhasil mendapatkan gelar doktor predikat cumlaude dengan IPK 3.85 di UIN STS Jambi.

Doktor Termuda di Jambi Ini Bercita-Cita Memiliki Gelar Professor
Tribunjambi/Aldino
Dr. Sodiah, M.Pd.I 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Nurlailis

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sodiah merupakan alumni dari UIN STS Jambi. Ia berhasil mendapatkan gelar doktor predikat cumlaude dengan IPK 3.85 di UIN STS Jambi. Siapa sangka ia berhasil mendapatkan gelar doktor sebelum usia 30 tahun.

Kepada tribunjambi.com ia menceritakan perjuangannya selama menempuh pendidikan di UIN STS Jambi. Awalnya ia pernah bercita-cita jadi perawat dan polisi namun karena terkendala biaya maka ia putusnya untuk mengambil jurusan bahasa Inggris.

“Sebelumnya sempat sharing dengan para guru untuk mengambil jurusan saat kuliah. Saya menginginkan jurusan yang bisa menentukan masa depan. Karena saya menyukai bahasa maka saya pilih bahasa Inggris,” ceritanya.

Baca: Hadiah Terindah Bagi Orang Tua Adalah Martabat dan Nama Baik

Baca: Lowongan Maret 2019: 143 BUMN Terima 11.000 Pegawai Lulusan SMA/SMK/S1/S2, Ini Link & Daftar

Baca: Berikan Penyuluhan Pendidikan dengan Materi Peran Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Baca: 139 Komputer Terbakar, Kemenag Pastikan Pelaksaan UNBK di MAN 2 Kota Jambi Tetap Berjalan

Selama kuliah ia tidak pernah ngekos. Dari Batas, ia naik mobil empat kali hingga sampai di UIN STS Jambi. Itu dijalanai selama kuliah S1.

“Dulu saya punya cita-cita memiliki gelar Prof. Dr. Hj. Sodiah, M.Pd., Ph.D,” ucapnya.

Selama S1 itu pula ia jalani sambil mengajar. Sehingga setelah lulus, ia ingin yang lebih maka ia lanjutkan S2.

“Yang penting S2 dulu, uangnya gimana nanti,” pikirnya kala itu.

Sodiah menjadi perempuan yang menyandang gelar doktor termuda di Jambi.
Sodiah menjadi perempuan yang menyandang gelar doktor termuda di Jambi. (Tribunjambi/Aldino)

Pada 2014 Sodiah selesai S2 dan setelahnya menjadi dosen. Iapun diizinkan oleh orang tua untuk lanjut S3. Meskipun tidak punya uang, ia merasa selalu ada orang yang membantu. Sekalipun harus meminjam uang.

Di 2015 ia lulus beasiswa S3. Selama S3 juga dapat banyak kesempatan untuk ke luar negeri seperti Jepang, Taiwan, Singapura. Jadi bukan berarti menutup rezeki.

Mengenai jam tidur, ia mengatakan biasanya hanya tidur selama 4-5 jam per hari. Bahkan ia mengaku belum pernah merasa titik jenuh.

“Ketika jenuh yang saya lakukan adalah sharing. Dengan senior, dosen bahkan anak murid. Jadi ketika saya memberikan motivasi ke siswa itu adalah pengingat untuk diri saya sendiri. Juga harus ada orang yang menasehati dari segi agama,” ungkapnya.

Baca: Water Front City Kuala Tungkal, Suguhkan Indahnya Senja Hingga Lezatnya Wisata Kuliner Laut

Baca: MAU Cari Calon Istri di Biro Jodoh, Pria Ini Malah Temukan Putrinya yang Hilang 40 Tahun

Baca: Ini Alasan Fasha Melantik Pejabat Eselon III dan IV Saat Panas Terik di Danau Sipin

Baca: Ketua DPRD Merangin Kaget Dengar Lahan Pemda Jadi Lokasi PETI

Penulis: Nurlailis
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved