Diduga Dapat Tekanan, Operasi Penutupan Ilegal Drilling di Pompa Air Dihentikan

Diduga operator mendapatkan intimidasi pihak tertentu penertiban kolam penampungan minyak mentah ilegal drilling terpaksa dihentikan.

Diduga Dapat Tekanan, Operasi Penutupan Ilegal Drilling di Pompa Air Dihentikan
Tribunjambi/Abdul Usman
Penutupan sumur minyak ilegal di Desa Pompa Air Batanghari. 

Laporan Wartawan Tribun Jambi Abdullah Usman 

 TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAN - Diduga operator mendapatkan intimidasi pihak tertentu penertiban kolam penampungan minyak mentah ilegal drilling terpaksa dihentikan sementara, hingga Pertamina mendapatkan operator baru.

Pantauan Tribunjambi.com di lapangan hingga pukul 13.15 kelanjutan penertiban kolam penampungan minyak mentah ilegal drilling di kawasan Desa Pompa Air, Kecamatan Bajung, Tim kembali akan melanjutkan besok setelah Pertamina mendapatkan operator baru. 

"Pasca operator alat berat tadi enggan melanjutkan karena diduga mendapatkan intimidasi, akhirnya untuk sementara kegiatan tadi distop dan dilanjutkan besok setelah pihak Pertamina mendapatkan operator baru," ujar Kasat Intel Akp Tri Cahyono Kepada Tribunjambi.com.

Baca: Bertahun-tahun Berkonflik, PT.AAS dan Warga Mandiangin Sepakat Damai

Baca: Urus Perubahan Nopol Mobil Dinas, Satpol PP Muarojambi Malah Kena Tipu Oknum UPT Samsat

Baca: Kepala UPT Samsat Muarojambi Beberkan Modus Penipuan Mantan Anak Buahnya

Baca: VIDEO: Detik-detik Aksi Begal di Medan Terekam CCTV, Korban Sempat Berikan Perlawanan

Baca: 24 Orang Kena DBD, Dinkes Sarolangun Ajak Puskesmas Hingga Kades Berantas DBD

Lebih lanjut dikatakannya, tidak tahu pasti penyebab operator tersebut enggan melanjutkan pengurukan kolam penampungan minyak tersebut. Operator tersebut ketakutan sendiri dan merasa ada yang mengintimidasi pekerjaannya. 

"Kita tadi sudah katakan kepada pihak operator tadi bahwa kita siap mengamankan, namun pihak operator tetap tidak mau melanjutkan. Sekarang kita menunggu keputusan dari pihak Pertamina untuk mecari operator lain," jelasnya.

Diakuinya, memang tadi ada salah satu ormas yang turut menghalangi aksi penertiban tadi dengan alasan tanah tersebut memiliki sertifikat resmi.

Ditengarai satu dari rombongan ormas tersebut yang melakukan intimidasi namun pihaknya tidak dapat memastikan karena operator tadi tidak mau menyebutkan siapa yang melakukan tekanan kepadanya.

Dari koordinasi terakhir, pihak Pertamina masih menunggu instruksi Pertamina pusat. Yang jelas pihanya bersama pemerintah daerah siap melakukan pengamanan untuk penertiban selanjutnya yang dijadwalkan selama tiga hari tersebut. 

Dalam melakukan pengaman, pihaknya mengerahkan puluhan personil baik dari sabara, intel, buser polres dan melibatkan Polsek Bajubang.

Sementara itu pihak Pertamina saat dikonfirmasi Tribunjambi.com belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut perihal penertiban yang berada di kawasan wilayah kerja Pertamian WKP tersebut. 

Baca: 2.231 Amplop Tabloid Indonesia Barokah Masuk Kantor Pos, Ditujukan ke Pesantren dan Masjid di Jambi

Baca: Ribuan Tabloid Indonesia Barokah Dikirim ke Kota Jambi, Kerinci, di Bungo Dikirimi 17 Karung

Baca: Program MIKiR, Membuat Naufal tak Lagi Merasa Sendiri

Baca: Ditawari Jadi Ketua PSSI Ahok Menolak, Ini Nama yang Diusulkannya

Baca: Bupati Romi Ingin Pemkab Tanjab Timur Miliki 10 Persen Saham PetroChina

Penulis: Abdullah Usman
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved