Harga Belum Stabil, Sebagian Petani Sawit di Tanjab Barat Beralih Tanam Pinang

Karena tidak menjanjikan pendapatan yang lebih baik, Wandi mengaku, telah menanam pohon pinang di areal kebun sawit miliknya.

Harga Belum Stabil, Sebagian Petani Sawit di Tanjab Barat Beralih Tanam Pinang
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Darwin Sijabat

TRIBUNJAMBI.COM, KUALA TUNGKAL - Belum stabilnya harga tandan buah segar (TBS) sawit, membuat sejumlah petani di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, mulai mengganti tanaman sawit mereka dengan menanam pinang.

Tidak stabilnya harga komoditi pertanian, khususnya kelapa sawit tersebut menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan sehari hari masyarakat Tanjab Barat.

"Harga sawit dewasa ini, paling mahal Rp500 per kg. Jika dihitung dengan biaya yang dikeluarkan hingga panen, kami jadi merugi. Saat masa panen, kita tak punya pilihan yakni harus tetap dipanen walau harga tak menjanjikan," ungkap Wandi, petani sawit di Kecamatan Betara, Jumat (4/1/2019).

Baca: Sopir Nakal Kembali Berulah, Gembok Portal Jalan di Muara Sabak Kembali Dirusak

Baca: Banyak Sawah di Desa Rantau Makmur, Beralih Fungsi. Bupati Minta Warga Tak Tanam Sawit

Baca: Link Pengumuman CPNS Sarolangun 2018, Ini yang Harus Dilakukan Untuk Peserta yang Lulus Seleksi

Karena tidak menjanjikan pendapatan yang lebih baik, Wandi mengaku, telah menanam pohon pinang di areal kebun sawit miliknya.

"Lumayan hasilnya, satu kilo pinang kering, bisa mencapai Rp11 ribu per kilonya," tambahnya

Sementara itu petani lainnya, Narso menuturkan, dirinya terpaksa menebang dua hektare tanaman sawit miliknya setelah melihat tanaman sawit kurang laku di pasaran.

Dia mengaku alasan menebang dua hektare lahan sawitnya itu agar bisa mengganti dengan pinang karena melihat harga tanaman pinang lebih punya prospek bagi keberlangsungan ekonomi keluarganya.

Ilustrasi. Petani sawit di Kabupaten Sarolangun memilih menjual ke Pamenang, Merangin demi mendapatkan harga yang lebih tinggi.
Ilustrasi. Petani sawit di Kabupaten Sarolangun memilih menjual ke Pamenang, Merangin demi mendapatkan harga yang lebih tinggi. (Tribunjambi/Wahyu)

"Ya ditebang, lahan sawit yang sudah kosong ditanami lagi dengan bibit pinang. Harga pinang lebih bagus ketimbang sawit," ungkapnya.

Tak jauh berbeda, Tiar warga Tungkal Ilir mengaku melakukan hal yang sama. Dia beralasan keuntungan yang didapat tak sebanding dengan biaya panen.

"Ya, keliatannya lebih baik tanam pinang saja, sekarang harganya lumayan bagus. Kalau sawit kan kita tahu sendiri permintaan di pasar lokal maupun internasional jauh berkurang. Nyaris gak ada harganya lagi," tandasnya (*)

Baca: Kondisi Makam Ratu Horor Suzanna yang Luput Dari Perusakan di Magelang, Tertulis Pesan Khusus

Baca: VIDEO: Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi Hari Ini, Kolom Abu Putih Hingga Kelabu Capai 1.500 meter

Penulis: Darwin
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved