Rupiah Diprediksi Menguat atas Dolar AS, Turut Didorong Tiga Agenda Besar Ini

Ada tiga hajatan besar yang bisa mempengaruhi pergerakan rupiah berlangsung.

Rupiah Diprediksi Menguat atas Dolar AS, Turut Didorong Tiga Agenda Besar Ini
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
0202_RUPIAH_MANDIRI_UANG 

Rupiah Diprediksi Menguat atas Dolar AS, Didorong Tiga Agenda Besar Ini

TRIBUNJAMBI.COM- Nilai tukar rupaih atas Dolar AS diprediksi menguat, Senin (17/12). 

Demikian volatilitas nilai tukar rupiah pekan ini bakal tinggi. Ada tiga hajatan besar yang bisa mempengaruhi pergerakan rupiah berlangsung di periode tersebut.

Pertama, rilis neraca dagang Indonesia per November. Kedua, rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Pasar yakin The Fed akan menaikkan suku bunga pada rapat ini. Ketiga, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Analis memprediksi rupiah berpotensi melemah di awal pekan. Penyebabnya, defisit neraca dagang diprediksi melebar. Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro mengatakan, ini terjadi karena kenaikan impor bulan lalu.

Ilustrasi kurs rupiah
Ilustrasi kurs rupiah (Antara)

 
Importir getol mengimpor menggunakan momentum penguatan rupiah. "Perkiraan defisit neraca dagang November bisa mencapai US$ 860 juta," kata Satria, Jumat (14/12).

Baca: Ustaz Abdul Somad Ingatkan Milenials yang Sebaiknya Dilakukan Menyambut Tahun Baru 2019

Baca: Begini Kronologis Dua Siswa SMA yang Hanyut di Sungai Kenali

Baca: Seorang Napi Terorisme di Nusakambangan Meninggal Dunia, Jenazah Dibawa ke Rumah Duka

Pelemahan rupiah berpotensi terhenti bila The Fed mewujudkan kenaikan suku bunga acuan. Pelaku pasar sudah merefleksikan sentimen ini dalam pergerakan dollar AS belakangan ini.

Selain itu, BI sudah melakukan antisipasi. Karena itu, analis pasar uang Bank Mandiri Reny Eka Putri memperkirakan, BI 7-day repo rate (BI 7-DRR) tidak akan naik bulan ini. "Posisi rupiah saat ini sudah priced in dengan instrumen kebijakan yang dikeluarkan BI, seperti DNDF dan lelang swap," kata dia.

Di sisi lain, jika BI ikut kerek suku bunga, rupiah dapat semakin perkasa. Tapi hal ini bakal berdampak buruk pada pertumbuhan sektor riil. "Sehingga perlu respons dari pemerintah untuk mengimbangi kenaikan BI 7-DRR agar pertumbuhan ekonomi tak terganggu," jelas dia.

Tren dollar AS

Satria juga sependapat. Ia memprediksi, jika The Fed dan BI sama-sama menaikkan suku bunga, kurs rupiah dapat menguat ke level Rp 14.200 per dollar AS. Tapi, posisi rupiah yang terlalu kuat bisa menekan neraca berjalan atawa current account deficit (CAD). Maklum, pendapatan ekspor bakal mengecil bila rupiah naik terlalu tajam.

Baca: Liverpool Makin Kokoh di Puncak Klasemen Liga Inggris Pekan ke 17, Man United Posisi 6

Baca: Mahkota Miss Universe 2018 Diraih Catriona Gray dari Filipina, Sonia Fergina Masuk Top 20

Baca: Ada Banjir dan Truk Terguling, Ruas Jalan Mendalo - Aur Duri I Macet

Baca: Dua Siswa SMA Terseret Arus Sungai, Satu Berhasil Diselamatkan Satu Masih dalam Pencarian


Sebenarnya, tanpa kenaikan BI 7-DRR pun, rupiah diprediksi menguat paling tidak hingga kuartal I-2019. Hitungan Bahana, kurs mata uang Garuda bisa terkerek 3%–5% dari posisinya saat ini.

Penyebabnya, indeks dollar AS dalam tren bearish, perang dagang yang mulai mereda serta CAD Indonesia yang menyempit. Satria memprediksi, hingga akhir tahun, rupiah bergerak antara Rp 14.700–Rp 14.800 per dollar AS.

 Sementara Reny memperkirakan, kurs rupiah di akhir tahun di Rp 14.635 per dollar. Analis Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra lebih optimistis rupiah mencapai kisaran Rp 14.100–Rp 14.290 per dollar AS. (*)

Baca: Daftar Putri Indonesia yang Tampil di Miss Universe 2018 sejak 1974-Sekarang

Baca: Viral Foto Jokowi Bersama Wako Fasha, Erick Thohir di Mal WTC Batanghari, Ketiganya Pesan Menu Sama

Editor: hendri dede
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved