Dunia Pendidikan Itu Menarik, Alumni Sastra Jepang Ini Terinspirasi dari Kisah Anak SD

Sebelum 2013, ia sempat mengajar bahasa Jepang di SMPN 7 Jambi. Sejak saat itulah, ia tertarik dengan dunia pendidikan.

Dunia Pendidikan Itu Menarik, Alumni Sastra Jepang Ini Terinspirasi dari Kisah Anak SD
tribunjambi/nurlailis
Fatonah, terinspirasi dengan anak SD. Kini dunia pendidikan baginya sangat menarik dijalani 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Nurlailis

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Terjun ke dunia pendidikan, ternyata hal yang baru digeluti beberapa tahun ini. Siapa sangka sebelumnya, dulu seorang banker, saat ini aktif sebagai dosen di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi (Unja) dan juga mengajar bahasa Jepang di STIKBA Jambi.

Fatonah, wanita kelahiran 3 September 1978 ini, menjadi dosen sejak 2013 lalu. Ia merupakan alumni S1 Sastra Jepang di Universitas Padjajaran Bandung, tahun 2000 dan S2 Ilmu Komunikasi, di universitas yang sama.

Fatonah, besama anak-anak SD
Fatonah, besama anak-anak SD (tribunjambi/nurlailis)

Baca: Unggahan Ustaz Abdul Somad Soal Perayaan Tahun Baru Sudah Disukai Tiga Ratusan Ribu Kali

Baca: Cerita Menyeramkan Dosen yang Mengajar Mahasiswa Gaib, Tiga Hari Menghilang dan Baru Sadarkan Diri

Sebelum 2013, ia sempat mengajar bahasa Jepang di SMPN 7 Jambi. Sejak saat itulah, ia tertarik dengan dunia pendidikan.

“Menjadi dosen adalah hal yang menarik, karena menghadapi beragam karakter manusia. Dari sana merasa ada kepuasan tersendiri dan tertarik didunia pendidikan. Ada suka dukanya dan lebih banyak keseruannya. Berbeda saat menjadi banker,” ungkapnya.

Karena tertarik dalam dunia pendidikan ia juga aktif menjadi relawan pendidikan di kelas inspirasi Jambi sejak 2015.

Foto bersama mahasiswa
Foto bersama mahasiswa (tribunjambi/nurlailis)

“Pertama kali ikut kegiatan kelas inspirasi dan merasa saya terinspirasi dengan anak-anak SD. Saya merasa miris saat ada anak-anak yang tidak tau cita-cita,” kisahnya.

Mengenai penelitian ia pernah meneliti tentang fenomena minum daun kawo di Kabupaten Kerinci, tepatnya di Desa Ujung Pasir, peranan lembaga adat dalam melestarikan kebudayaan melayu, dan peranan dan eksistensi hukum adat melayu.

“Daun kawo itu daun kopi. Sejarahnya dulu masa penjajah, para pekerja diminta untuk memetik kopi tapi tidak hasilnya diambil semua oleh mereka yang tersisa hanya daun kopi kering yang dibuat menjadi serbuk dan untuk diminum,” jelasnya. (*)

Baca: 6 Pertanda Tubuh 100 Hari Jelang Kematian, Rasakan Denyutan di Bagian Ini Tandanya Ajal Telah Dekat

Baca: Pemberhentian Gubernur Nonaktif Zumi Zola Tunggu Keppres Diterima DPRD Jambi, Ini Proses Selanjutnya

Penulis: Nurlailis
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved