VIDEO: Kreatif, Wirausaha Muda Ciptakan Inovasi Dodol Pisang Khas Muarojambi

Tidak jauh berbeda dengan olahan dodol lainnya, namun aroma dari dodol pisang ini sangat khas.

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Samsul Bahri

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI- Keterampilan masyarakat tentu membawa dampak pada perkembangan masyarakat kreatif itu sendiri. Seperti halnya yang dilakukan oleh Hendri, Mahasiswa semester 5, warga Desa Senaung, Kecamatan Jaluko, Muarojambi.

Salah satu hasil produk yang dihasilkannya yaitu dodol pisang. Tentu ini hal baru bagi sebagian orang, memanfaatkan buah pisang menjadi bahan pokok dalam pembuatan dodol. Meskipun memang tidak jauh berbeda dengan olahan dodol lainnya, namun aroma dari dodol pisang ini sangat khas.

"Untuk bahan kita hampir sama, tapi dodol kita tidak pakai pewangi atau pengawet. Pewangi kita alami dari pisang itu sendiri, tidak ada tambahan apa-apa," ujar Hendri.

Baca: Ini Alasan Sidang Kasus Pipanisasi Hendri Sastra Ditunda

Baca: Prabowo Disarankan Minta Maaf, Soal Salah Ucap Hulaihi Wasalam di Reuni Akbar 212

Baca: Via Vallen Tersangkut Endorse Kosmetik Ilegal, Polisi Akan Periksa Pelantun Lagu Sayang Itu

Baca: Gadis 15 Tahun Tolak Cintanya, Dibilang Hitam Jelek, Pria ini Ajak Jalan, di Kebun Lakukan Hal Sadis

Inovasi ini didapatkannya pada saat Ia mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan Perindustrian Perdagangan (Disperindag) bekerjasama dengan Asosiasi UMKM Muarojambi.

Selain itu juga ini atas binaan PLUT Provinsi Jambi. Ilmu yang didapat selama pelatihan itu lah yang Ia coba kembangkan bersama dengan orangtuanya sehingga menghasilkan produk olahan dodol pisang.

Ia menjelaskan bahwa untuk pembuatan dodol pisang Ia menggunakan pisang jenis pisang lilin. Menurutnya pisang lilin ini lah yang menjadi ciri khas dari hasil dodol yang Ia buat.

"Semua pisang itu pada dasarnya bisa, tapi olahan dodol ini, kami pakai pisang lilin. Alasannya ya pisang lilin ini punya ciri khas harum, manis. Harum ini lah yang jadi pewangi alami dari dodol, jadi kita tidak ada tambahan-tambahan lagi," jelasnya.

Untuk satu kali produksi Ia mampu membuat sekitar 25 pack dodol pisang yang sudah di kemas. Modal dalam satu kali produksi dikatakan Hendri memakan modal sekitar Rp 50 ribu. Sedangkan untuk produksi, dalam satu hari bisa sampai tiga kali produksi.

"Dari modal itu dapatlah keuntungan sekitar Rp 100-150 ribu rupiah. Kita jual satu bungkus itu Rp 13 ribu dengan isi dodol sebanyak 12 balok kecil," ujarnya.

Usaha pembuatan dodol ini terbilang baru, karena dimulai sejak bulan September 2018 ini. Namun, bagi masyarakat yang ingin mencicipi dodol pisang khas Kabupaten Muarojambi ini, ada beberapa outlet toko oleh-oleh Jambi yang sudah menyediakannya.

"Alhamdulillah cuma beberapa bulan untuk dodol ini kita produksi kita sudah pemasaran di toko-toko outlet oleh-oleh khas Jambi. Jadi masyarakat bisa langsung beli, kita sudah ada merk dengan nama dodol pisang HR," katanya.

Untuk pemasaran katanya respon dari outlet maupun masyarakat sudah cukup bagus, namun memang secara kemasan dikatakan Heri perlu diperbaiki. Hal ini dikarenakan modal untuk kemasan terbilang cukup mahal dan sulit didapat.

"Kendala kita itu di packing. Kita masih terbilang sederhana, kita sudah cari-cari kemasan yang bagus, tapi ya balik lagi, harganya cukup mahal, sedangkan modal kita kekurangan," ungkapnya.

Tidak hanya mengolah dodol pisang, Hendri bersama orangtuanya juga mengolah dua produk lainnya yaitu keripik pisang dan juga permen air kelapa.

Penulis: syamsul
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved