Editorial

Banjir Kota Jambi dan Kesadaran Lingkungan

Tidak jarang ditemukan sampah tak lazim di dalam anak sungai, semisal springbed bekas, kursi bekas yang menyumbat alur sungai.

Banjir Kota Jambi dan Kesadaran Lingkungan
TRIBUNJAMBI/DEDI NURDIN
Banjir yang menggenangi rumah warga di Perumahan Kembar Lestari, Kota Jambi, Senin (3/12/2018) malam 

Setiap musim hujan selalu tersiar kabar puluhan rumah dilanda banjir di sejumlah perumahan di Kota Jambi. Setidaknya ada 19 titik di Kota Jambi yang menjadi langganan banjir, setiap kali hujan deras mengguyur.

Meski Pemerintah Kota Jambi terus berbenah memperbaiki drainase, namun persoalan banjir masih belum selesai.

Terbaru pada Senin malam kemarin, ada perumahan di Jalan Pattimura, yang terendam. Beruntung sejauh ini tidak ada korban jiwa.

Baca: Kebanjiran, 700 Narapidana Lapas Klas II A Jambi Diungsikan

Baca: 19 Titik Tergenang, Pemkot Jambi Siapkan Penanganan Banjir Jangka Panjang

Baca: Banjir di Sarolangun, Dua RT di Desa Pulau Pandan Kecamatan Limun Masih Terendam Hingga Rabu Malam

Permasalahan ini bukan lagi menjadi persoalan baru, melainkan sudah terjadi bertahun-tahun. Namun hingga kini belum ada solusi yang tepat untuk menangani banjir di Kota Jambi.

Ide Pemkot Jambi akan membuat daerah resapan patut diapresiasi. Belum ada kata terlambat untuk memperbaiki rusaknya sistem tata kelola air di Kota Jambi. Hanya saja, niat untuk membuat kolam retensi di delapan anak sungai di Kota Jambi itu, juga harus dibarengi dengan pengetatan aturan pembangunan bangunan baru di daerah resapan air.

Selain itu, sistem drainase di Kota Jambi juga harus dibenahi. Berapa banyak parit-parit di sepanjang jalan utama di kota ini yang tidak lagi berfungsi dengan baik.

Beberapa lokasi di Kota Jambi terendam banjir usai diguyur hujan lebat.
Beberapa lokasi di Kota Jambi terendam banjir usai diguyur hujan lebat. (Tribunjambi/Rohmayana)

Termasuk parit atau got di hampir semua pemukiman penduduk yang juga tak berfungsi baik.
Pemkot Jambi menyebut, kolam retensi ini rencananya akan dibuat di beberapa titik di setiap anak sungai, sesuai dengan kebutuhan dan debit air di masing-masing daerah tersebut.

Setiap anak sungai nanti akan dibuat titik-titik kolam retensi atau disebut resapan air. Sampai saat ini hal tersebut masih dalam tahap perencanaan.

Persoalan lain, tentunya pemerintah harus mengeluarkan anggaran besar untuk membeli lokasi yang akan dijadikan kolam retensi tersebut. Tentunya harus mendapat dukungan anggaran dari pemerintah provinsi dan pusat, karena besarnya biaya yang dibutuhkan.

Baca: Kilas Balik Kasus Zumi Zola Jelang Vonis 6 Desember 2018, Berapa Hukuman Bila Dituntut 8 Tahun?

Baca: Berapa Berat Hukuman Zumi Zola dari Tuntutan 8 Tahun? Ini Vonis Erwan Malik Dkk saat di Pengadilan

Selain itu, yang terpenting adalah, bagaimana upaya pemerintah dan pemuka di masyarakat untuk mewujudkan masyarakat yang sadar lingkungan.

Tidak jarang ditemukan sampah tak lazim di dalam anak sungai, semisal springbed bekas, kursi bekas yang menyumbat alur sungai.

Sangat mudah kita temukan parit di depan rumah warga yang tersumbat, dan bertahun-tahun tidak pernah dibersihkan. Setidaknya, pekerjaan yang paling irit anggaran adalah, upaya kita bersama membangkitkan semangat gotong royong, sadar akan kebersihan lingkungan. (*)

Editor: deddy
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved