Peristiwa Ndunga Papua
Cerita saat Jokowi di Ndunga, Paspampres Curiga Pria Berpakaian Lokal Ikut Rombongan Presiden
Kabupaten Ndunga terkenal rawan. Sebenarnya seperti apa kondisi Nduga yang disebut-sebut daerah pinggir di Papua?
TRIBUNJAMBI.COM - Kabar terbaru dari Papua, sebanyak 31 orang pekerja jembatan di Ndunga, Papua, dibunuh oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB).
Kabupaten Ndunga terkenal rawan. Sebenarnya seperti apa kondisi Nduga yang disebut-sebut daerah pinggir di Papua?
Artikel yang ditulis Andy Riza Hidayat berjudul "Nduga, Kabupaten yang Tak "Semerah" Status Kerawanannya..." di kompas.com pada 1 April 2016, memberikan gambarannya.
Nduga merupakan satu di antara kabupaten di pesisir Provinsi Papua yang menghubungkan ke 11 kabupaten lainnya yang berada di pegunungan tengah Papua.
Karena posisinya ini, Kabupaten Nduga sangat strategis untuk membuka keterisolasian kabupaten-kabupaten lainnya di Papua.
Meski demikian, kabupaten ini berstatus "merah" karena sering muncul gangguan keamanan dari kelompok bersenjata di Papua.
Tak heran jika sesaat setelah Presiden Joko Widodo tiba di kota Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua, menjelang akhir tahun lalu, anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pun menanyakan siapa sosok berpakaian seperti warga biasa, dan bukan dinas, yang ikut mendampingi Presiden bersama Gubernur Papua Lukas Enembe dan Bupati Nduga Yarius Wijangge serta sejumlah menteri lainnya.
Kecurigaan Paspampres baru pupus setelah diketahui orang tersebut ternyata Malik, Manajer Pelaksana Proyek Jalan Darat Nduga-Wamena, yang bekerja pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Malik memimpin pengerjaan proyek jalan sepanjang 278 kilometer yang melintasi perbukitan dan hutan belukar.
Baca Juga:
Ini Penjelasan Polisi terkait 31 Pekerja di Dunga Tewas Diduga Dibunuh KKB
Kisi-kisi Soal SKB CPNS 2018 dari BKN, Tips Mengerjakan supaya Efektif, Ini Link
Assalamualaikum, Pak, Lindswell Kwok Berhijab, akan Menikah dengan Pria Berbadan Atletis Ini
Pembangunannya juga melibatkan personel TNI yang juga ikut sekaligus membantu pengamanannya. Malik mengaku memilih berpakaian biasa daripada harus berpakaian dinas sebagaimana layaknya pejabat di Kementerian PU dan Perumahan Rakyat karena status Nduga yang masih berstatus wilayah rawan akibat masih terjadinya gangguan keamanan.
Maklum, Malik pernah disandera kelompok bersenjata dan harus dibebaskan setelah ditukar dengan uang tebusan senilai Rp 1 miliar.
"Saya berpakaian begini demi keamanan. Jika tidak menyamar, mereka bisa menculik saya lagi. Di sini masih belum aman, terutama bagi pelaksana proyek," tutur Malik.
Bagi Malik, bekerja di daerah rawan memang penuh risiko. Apalagi akses transportasi masih terbatas.
Demikian pula sarana pendukung lain yang masih minim, seperti listrik dan alat komunikasi. Padahal, kawasan Nduga masih berupa hutan, permukimannya pun masih jarang.