Festival Pesona Jambi Tahun 2018 Resmi Ditutup, Gushendra: Semoga Masyarakat Lebih Sejahtera

Festival Rakyat Kehutanan Sosial Nasional (Pesona) Jambi Tahun 2018 oleh Balai Perhutanan sosial dan Konflik lahan (PSKL) wilayah Jambi ditutup

Festival Pesona Jambi Tahun 2018 Resmi Ditutup, Gushendra: Semoga Masyarakat Lebih Sejahtera
TRIBUNJAMBI/TOMMY KURNIAWAN
Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemintraan Lingkungab (PSKL) Bambang Supriyanto, Kepala Balai Perhutanan Sosial dan Konflik Lahan Wilayah Sumatera Sahala Simanjuntak bersama Asisten Dua Setda Provinsi Jambi membuka kegiatan Festival Pesona Jambi 2018 

Festival Pesona Jambi Tahun 2018 Resmi Ditutup, Gushendra: Semoga Masyarakat Lebih Sejahtera

Laporan Wartawan Tribun Jambi. Tommy Kurniawan

TRIBUNJAMBI.COM JAMBI - Festival Rakyat Kehutanan Sosial Nasional (Pesona) Jambi Tahun 2018 yang sebelumnya diadakan oleh Balai Perhutanan sosial dan Konflik lahan (PSKL) wilayah Sumatera di gedung Ratu Convention Center (RCC) resmi ditutup, Sabtu (1/12).

Sebelumnya, pada kegiatan Festival yang diadakan selama tiga hari ini, berbagai kegiatan dilakukan, diantaranya pameran multi produk perhutanan sosial, talk show temu usaha dan rantai pasar, konser kebudayaan, jamuan makan hutan atau kuliner tradisional, dan berbagai perlombaan.

Tak hanya itu, Berbagai produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) meramaikan Festival Pesona Jambi 2018, diantaranya madu hutan, kopi, minyak kephiang, kayu manis, minyak atsiri, gaharu dan karet hadir mengisi stand-stand pameran.

Kepala Balai Perhutanan Sosial dan Konflik Lahan Wilayah Sumatera Sahala Simanjuntak mengaku bahwa saat ini dalam lima skema perhutanan sosial, yakni hutan desa, hutan kemasyarakatan, hutan adat, hutan tanaman rakyat dan kemitraan semuanya mengembalikan nilai-nilai tradisioanal masyarakat dalam mengolah hutan.

Baca: 113 Napi di Banda Aceh Melarikan Diri, Polri Kantongi 6 Nama Provokator

Baca: Mengenal Danpaspampres Jokowi yang Baru, Bukan Orang Sembarangan! Pernah di Satuan Elit Kopassus

"Dengan banyaknya izin yang sudah diberikan dalam skema perhutanan sosial, saatnya unsur kesejahteraan masyarakat menjadi jawaban dalam skema pengelolaan hutan lestar, adil dan berkelanjutan," katanya.

Ia berharap, dalam Festival yang sudaj diselenggarakan ini nantinya, masyarakat dan lembaga pendamping bisa belajar mengembangkan produk-produk perhutanan sosial kedepanya. 

"Ini Harus mampu mengembangan nilai-nilai tradisionalnya, supaya nilai-nilai ekonomi dapat diperoleh.Di sini wadahnya antara penjual dan pembeli,” imbuhnya.

Sementara itu, Perwakilan dari Dinas Kehutanan Provinsi Jambi Gushendra, mengatakan bahwa dalam even ini diharapkan bisa menurunkan jumlah lahan kritis khususnya di Provinsi Jambi.

Baca: Gerakan Reuni 212 Dituding Melawan Pemerintah dan Ingin Suriahkan Indonesia

Baca: Remaja 19 Tahun Asal Inggris Dituduh Mata-mata, Ditangkap Otoritas Mesir

"Semoga masyarakat dikawasan hutan bisa lebih sejahtera dan bisa meningkatkan ekonominya dengan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, sehingga tidak ada lagi penebangan atau pembakaran hutan di Jambi," jelasnya.

"Rangkaian kegiatan Festival ini juga diharapkan membuka pikiran masyarakat di Provinsi Jambi bahwa ada banyak hasil hutan yang bernilai tinggi," tambahnya.

Gushendra menambahkan, peningkatan kesejahteraan masyarakat disekitar hutan ini tidak terlepas dari para NJO yang tergabung dari kehutanan sosial. Ia berharap sinergi antara para NJO dan Pemerintah bisa terus ditingkatkan demi meningkatkan masyarakat dikawasan hutan.

Penulis: Tommy Kurniawan
Editor: bandot
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved