Wisata Jambi

Berlatar Alam Rawa Gambut, Inilah Keindahan Jembatan Rawa Karindangan di Jambi

Berlatar alam, jembatan Rawa Karindangan di Desa Pematang Buluh, Betara, Tanjab Barat jadi tempat berswafoto.

Berlatar Alam Rawa Gambut, Inilah Keindahan Jembatan Rawa Karindangan di Jambi
Tribunjambi/Darwin
Berlatar alam, jembatan Rawa Karindangan di Desa Pematang Buluh, Betara, Tanjab Barat jadi tempat berswafoto. 

Laporan Wartawan Tribunjambi.com, Darwin Sijabat

TRIBUNJAMBI.COM, KUALA TUNGKAL - Jembatan ini dibangun di atas rawa gambut. Berlatar alam, jembatan Rawa Karindangan di Desa Pematang Buluh, Betara, Tanjab Barat jadi salah satu wisata Jambi yang menarik untuk berswafoto. 

Untuk menikmati keindahan jembatan ini, pengunjung dewasa dikenakan tarif Rp 2 ribu dan seribu untuk anak-anak. Jembatan ini dibangun untuk meningkatkan potensi desa, dan perekonian masyarakat lewat sektor wisata.

Jembatan sepanjang 280 meter ini dibangun pada 2017 di atas rawa dekat dengan Sungai Betara. 

Di atas jembatan yang penuh warna ini ada beberapa spot favorit untuk tempat berfoto, seperti bentuk bintang, hati dan yang paling spesial spot bertuliskan "Jembatan Rawa Karindangan".

Baca: Dikelilingi Tujuh Gunung, Inilah Surga Danau Kaldera Tertinggi di Asia Tenggara

Jembatan Rawa Karindangan di Desa Pematang Buluh, Betara, Tanjab Barat.
Jembatan Rawa Karindangan di Desa Pematang Buluh, Betara, Tanjab Barat. (Tribunjambi/Darwin)

Jembatan ini menghubungkan rumah apung. Pengunjung juga dapat menikmati serunya di atas sampan yang disediakan pengelola.

Muhammad Hapsun, Sekretaris Desa Pematang Buluh mengatakan, jembatan itu dikelola Bumdes Cahaya Berkah yang dibentuk sejak 2016.

Saat itu Bumdes berinisiatif untuk menambah wisata yang ada di desa. Sebelum jembatan itu Desa Pematang Buluh memiliki pemandian air panas alami sejak tahun 2014.

Baca: Air Panas Semurup, Keajaiban Alam Jambi yang Menyimpan Misteri

Pemandian air panas itu awalnya pengeboran sumur air bersih di samping masjid Desa Pematang Buluh yang akan disalurkan ke masyarakat. Namun justru keluar air panas, dan kini dimanfaatkan desa untuk sektor wisata.

"Karindangan itu identik dengan Suku Banjar, dalam arti kata kalau kami bilangnya Keganangan, kalau dalam bahasa Indonesia 'teringat terus'," ungkapnya.

Halaman
123
Penulis: Darwin
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved