Kasus Kekerasan

Kasus Pemukulan Terhadap Siswa di Bungo, Firdaus Bantah Keluarga Minta Rp 200 Juta

Kasus pemukulan tangan terhadap murid oleh Kepala Mts di Babeko berbuntut panjang. Awalnya pihak Mahyudin yang merupakan

Kasus Pemukulan Terhadap Siswa di Bungo, Firdaus Bantah Keluarga Minta Rp 200 Juta
takasuu
ilustrasi kekerasan pada anak 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BUNGO -  Kasus pemukulan tangan terhadap murid oleh Kepala Mts di Babeko berbuntut panjang. Awalnya pihak Mahyudin yang merupakan kepala sekolah mengklaim sudah mendatangi keluarga korban dengan perwakilan dan menuduh keluarga korban meminta Rp 200 juta jika ingin damai.

“Tidak benar itu. Kami tidak pernah meminta Rp 200 juta untuk damai, itu namanya pemerasan,” kata Firdaus, ayah korban, pada Rabu (14/11).

Baca: VIDEO: Oli Bekas Ternyata Bagus sebagai Antikarat Knalpot Motor, Kok Bisa?

Firdaus mengatakan, ungkapan yang mungkin didengar pihak Mahyudin adalah reaksi kekesalan. Semua bermula saat pihak keluarga Mahyudin, tanpa Mahyudin, datang ke rumah Firdaus memohon perdamaian.

“Jadi kami menanggapi secara terbatas dalam keluarga dulu. Baru bisa memutuskan. Setelah kami melakukan perundingan, malah muncul bahasa dari pihak Mahyudin,” katanya.

“Katanya berapa pun yang kami minta mereka akan bayar. Kami merasa dilecehkan,” ungkapnya.

Firdaus mengatakan hal itu malah memperkeruh suasana. Dirinya memutuskan untuk tetap terus proses hukum.

“Kalau memang ada itikad baik bisa saja berdamai. Sebab kita juga keluarga. Cuma Mahyudin tidak pernah datang langsung, bertanya kondisi anak ini pun tidak pernah,” kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik sawit ini.

Firdaus mengatakan ada dua kali kunjungan ke rumahnya untuk mengajak berdamai. Pertama dari sekolah dan Kemenag (kementerian agama) Bungo kedua dari perwakilan kepala sekolah yang bernama Mahyudin.

Baca: Bertahun-tahun Mengajukan, Sejumlah Nakhoda di Tungkal Berlayar Tanpa Surat Izin

Baca: Jumlah Barang Kiriman yang Masuk ke Bungo Meningkat Hingga 35 Persen

Sebelumnya Mahyudin juga mengadakan konferensi pers terkait kejadian ini. Pada tanggal 9 November pihak keluarga Mahyudin yang mengunjungi keluarga korban. Pihak keluarga Mahyudin melihat tidak ada keinginan keluarga korban menyelesaikan masalah dan masalah terlalu didramatisir.

Pada tanggal 12 November salah satu perwakilan yang datang malam sebelumnya menyampaikan pada Mahyudin bahwa keluarga korban meminta Rp 200 juta.

Penulis: Jaka Hendra Baittri
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved