Khawatir Punah, Budaya Kota Sungai Penuh Dipatenkan

Kota Sungai Penuh dikenal memiliki banyak kebudayaan baik itu kebudayaan benda maupun tak benda. Agar tidak punah,

Khawatir Punah, Budaya Kota Sungai Penuh Dipatenkan
tribunjambi/fadli
Personel penari empat generasi usai menampilkan Tari Rangguk Kumun mendapat aplaus dari penonton, satu diantaranya nenek 84 tahun yang duduk dikursi roda yang ikut menari 

Laporan Wartawan Tribunjambi.com, Herupitra

TRIBUNJAMBI.COM, SUNGAIPENUH - Kota Sungai Penuh dikenal memiliki banyak kebudayaan baik itu kebudayaan benda maupun tak benda. Agar tidak punah, kebudayaan tersebut pun didaftarkan seecara nasional untuk dipatenkan.

Hingga 2018 ini, sudah ada lima warisan budaya benda dan tak benda yang didaftarkan telah dipatenkan oleh pemerintah pusat. Lima budaya tersebut satu merupakan budaya benda dan empat budaya tak benda.

Budaya benda yang telah dipatenkan tersebut yakni, Lapik atau tempat duduk yang terbuat dari anyaman pandan. Pusat pembuatan lapik ini berasal dari Kecamatan Hamparan Rawang.

Baca: Calon DPD Berebut Garap Bungo

Sedangkan empat bidaya warisan tak benda yang telah terdaftar dan dipatenkan adalah, tari rangguk, Ntak Wo, tari iyo-iyo dan kenduri Sko.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Sungai Penuh, Zulwahdi mengatakan, banyak manfaat telah didaftarkannya warisan budaya ini. Pertama daerah lain tidak bisa mengklaim budaya yang berasal dari Kota Sunga Penuh.

Bukan itu saja ujarnya, manfaat lainnya warisan budaya ini tetap tumbuh di tengah-tengah masyarakat dan tidak lagi punah. Dimana masyarakat terutama generasi muda lebih mengenal dan menyukainya.

“Berkaca pada tari tauh, sebenarnya tari tauh merupakan tari yang berasal dari kota Sungai Penuh. Karena tidak ada yang mewarisi maka tari ini sudah hilang dan ditemukan di daerah lain,” ujarnya.

Baca: RTH Untuk Angso Duo Lama akan Dipelajari

Baca: Tak Hanya Gentala Arasy, Taman Terbuka Hijau Juga akan Dikelola Pemkot

Disampaikannya, selain dari lima budaya benda tak benda yang telah dipatenkan tersebut. Pihaknya juga telah telah mendaftarkan warisan budaya benda lainnya seperti Masjid Agung, batu gong yang berada di kecamatan Kumun Debai dan benda lainnya.

“Untuk yang lainnya kita masih menunggu pengakuan dari pusat, dan itu telah kita daftarkan,” pungkasnya.

Penulis: heru
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved