Politik Genderuwo dan Sontoloyo Jokowi Disebut Pengamat Tipe Menyerang Ala Petahana, Tidak Lazim!

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai gaya komunikasi politik Jokowi tidak lazim

Politik Genderuwo dan Sontoloyo Jokowi Disebut Pengamat Tipe Menyerang Ala Petahana, Tidak Lazim!
Presiden Joko Widodo bersama sembilan orang sekjen parpol pendukungnya saat bertemu di Istana Presiden Bogor, Selasa (31/7/2018).(Agus Suparto/Fotografer Kepresidenan) 

TRIBUNJAMBI.COM - Pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai gaya komunikasi politik Jokowi tidak lazim ketika menyatakan politik genderuwo.

Apalagi Jokowi saat ini sebagai calon presiden petahana dalam Pilpres 2019.

"Memang sebagai petahana komunikasi politik yang dilakukan Jokowi tidak lazim," ujar pendiri lembaga survei KedaiKOPI ini kepada Tribunnews.com, Jumat (9/11/2018).

Bila mengacu pada teori fungsi kampanye, Hendri Satrio menjelaskan, seharusnya Jokowi mempromosikan diri (acclaim) atau minimal bertahan (defense).

"Bukan ikut attack atau menyerang," ujar Hendri Satrio.

Dia menilai, pernyataan Jokowi terkait politik genderuwo dan sebelumnya politik sontoloyo sebagai bentuk gaya komunikasi menyerang dari seorang petahana.

Kondisi ini menurut Hendri Satrio, bisa terjadi karena 3 hal.

Baca: Jadwal dan Prediksi Persebaya Vs PSM Makassar Siaran Langsung Indosiar Malam Ini Liga 1 2018

Baca: Pelamar yang Gugur Massal di TKP SKD CPNS 2018 Masih Bisa Lolos ke SKB Asal Penuhi Syarat Ini

Baca: Seperti ini Cara Benar Isi Formasi Jabatan Kosong CPNS 2018 Akibat Gugur Massal di TKP SKD CPNS 2018

Pertama, Jokowi terpengaruh buzzer atau pembisiknya sehingga terpancing.

Kedua, kubu Jokowi panik sehingga memaksakan diri keluar.

"Karena percaya bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang," jelasnya.

Halaman
12
Editor: ekoprasetyo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved