VIDEO: Begini Kemeriahan Festival Mandi Safar di Desa Air Hitam Laut

Doa itu ditulis oleh 101 santri Pondok Pesantren Wali Petu, yang menurut KH As'ad dibuat ganjil karena Allah Swt menyukai angka ganjil.

Laporan Wartawan tribun Jambi, Zulkifli

TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Rabu akhir pada bulan Safar, dalam kalender Islam, menjadi hari yang cukup berarti bagi masyarakat Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Sebab, setiap datangnya hari itu, Pantai Babussalam di Desa Air Hitam Laut, yang berada di pesisir pantai timur Provinsi Jambi ini, selalu dikunjungi ribuan warga dan wisatawan dari berbagai daerah di Kabupaten Tanjung Jabung Timur maupun luar Provinsi Jambi.

Baca: Upacara Sakral Tandai Pekan Harmoni Sungai Penuh, Bersihkan Keris Pusaka di Lapangan Merdeka

Mereka datang untuk menyaksikan dan mengikuti ritual tradisi budaya asli warga setampat yakni mandi safar yang sudah dilaksanakan sejak dulu sejak perkampungan itu dibuka oleh orang Bugis dan tetap dilakukan hingga saat ini dan bahkan oleh Pemkab Tanjabtim didesign menjadi kegiatan festival yang digelar setiap tahun.

Dulu ritual itu hanya dilakukan oleh warga Air hitam laut di rumah masing-masing setiap hari rabu akhir bulan safar. Namun sejak tahun 70an ritual itu dipindahkan oleh tokoh agama menjadi mandi bersama-sama ke laut agar semua warga desa itu dapat mengikutinya.

Bahkan bagi warga yang ikut mandi dilaut dianjurkan untuk membawa makanan untuk berbagi, jika didalam satu rumah ada lima orang maka mereka membawa 7 bungkus makanan, agar tidak ada yang tidak kebagian makanan.

Rombongan Bupati dan Wakil Bupati Tanjung Jabung Timur tiba di Pantai Babussalam, Desa Air Hitam Laut. Mereka menghadiri Festival Mandi Safar 2018 atau 1440 H.
Rombongan Bupati dan Wakil Bupati Tanjung Jabung Timur tiba di Pantai Babussalam, Desa Air Hitam Laut. Mereka menghadiri Festival Mandi Safar 2018 atau 1440 H. (Tribun Jambi/Zulkifli)

Tokoh Agama Desa Air Hitam Laut, Sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia MUI Kabupaten Tanjung Jabung Timur KH As'ad Arsyad kepada Tribunjambi.com, menegaskan kegiatan mandi safar ini adalah tradisi bukanlah syariat.

"Tradisi ini kita berupaya melestarikan dan berupaya bagaimana muatan-muatanya syarat akan muatan religius," kata As'ad.

Prosesi mandi safar dilaksanankan syarat akan muatan nilai-nilai religius. Pada hari pertama dilakukan khataman Al-quran dengan munajat dan doa untuk negeri.

Tahapan mandi safar yang pertama dilakukan penulisan do'a yang dilaksanakan pada malam rabu yang ditulis oleh para santri pada daun mangga atau daun-daun lainya yang berukuran lebar. Do'a ditulis pada daun tersebut karena daun itu tidak meresap, dimaksudkan agar tinta tulisan itu mudah luntur saat terkena air laut.

Ritual Mandi Safar di Pantai Babussalam, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Dibanjiri warga Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, dan dari daerah lainnya, Rabu (15/11/2017).
Ritual Mandi Safar di Pantai Babussalam, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Dibanjiri warga Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, dan dari daerah lainnya, Rabu (15/11/2017). (TRIBUNJAMBI/EKO PRASETYO)
Halaman
12
Penulis: Zulkifli
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved