Berfungsi Sebagai Paru-paru Dunia, Apa Kompensasi yang Didapatkan Daerah Kerinci

Kabupaten Kerinci telah merelakan sebagian besar wilayahnya sebagai kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Berfungsi Sebagai Paru-paru Dunia, Apa Kompensasi yang Didapatkan Daerah Kerinci
TRIBUNJAMBI/MUHLISIN
Ini penampakan sangat banyak titik longsor di area TNKS yang sudah dirambah dan dijadikan perkebunan kopi. 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Herupitra

TRIBUNJAMBI.COM, KERINCI – Kabupaten Kerinci telah merelakan sebagian besar wilayahnya sebagai kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Meski berfungsi sebagai paru-paru dunia, namun daerah Kerinci belum mendapatkan imbalan atau kompensasi.

Diketahui ada sekitar 214.200 hektare atau 51 persen dari 420.000 hekhtare wilayah Kabupaten Kerinci telah dimasukkan ke dalam kawasan TNKS. Dan kawasan tersebut harus dilindungi atau tak bisa dieksploitasi untuk kegiatan pembangunan ekonomi.

Akibatnya, masyarakat kKerinci semakin kekurangan lahan untuk dikelola atau berkebun. Daerah juga dituntut untuk menjaga kelestarian TNKS tersebut. Sementara lahan yang ada untuk dikelola semakin hari semakin sempit atau berkurang.

Hal itu berdampak pada rendahnya ekonomi masyarakat Kerinci dibanding dengan daerah lain. Sebab kondisi demikian menyulitkan masyarakat Kerinci mengembangkan kegiatan pembangunan ekonomi, khususnya di bidang pertanian dan perkebunan.

Terkait hal ini Bupati Kerinci, Adi Rozal dikonfirmasi mengenai ada tidak nominal yang didapatkan kerinci dari keberadaan TNKS?. Bupati menyebutkan, kompensasi yang didapat dari keberadaan TNKS oleh pemerintah pusat, adalah besarnya dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK) yang didapatkan Kerinci.

“Kompensasinya bisa berupa DAU dan DAK. Kita lihat saja bagaimana anggaran kita Kerinci, naik atau tidak. Itu cara lain pemerintah memberikan kita kompensasi,” kata Bupati.

Namun alhamdulillah ujarnya, beberapa waktu lalu pihak TNKS telah membukakan pintu, di mana telah ada MoU Pemkab Kerinci dengan TNKS. Dalam MoU tersebut, masyarakat diperbolehkan memanfaatkan TNKS sebagai objek wisata.

“Masyarakat juga diperbolehkan bercocok tanam, berupa tanaman sayur dan mencari getah di hutan. Asal tidak menebang pohon atau merusak hutan tersebut,” jelasnya.

Penelusuran Tribunjambi.com, sejauh ini DAU dan DAK yang diterima Kabupaten Kerinci, kisaran Rp 1 triliun lebih. Namun jumlah tersebut sama dengan DAU dan DAK untuk Kabupaten yang tidak memiliki wilayah hutan taman nasional.(*)

Penulis: heru
Editor: nani
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved