Teater Potlot Pentaskan "Rawa Gambut", Teater dan Realisme Ekologi, di TBJ pada 13 Oktober 2018

Teater Potlot akan mementaskan "Rawa Gambut" di Taman Budaya Jambi pada 13 Oktober 2018 pukul 19.30 WIB

Teater Potlot Pentaskan
IST
Teater Potlot akan mementaskan "Rawa Gambut" di Taman Budaya Jambi pada 13 Oktober 2018 pukul 19.30 WIB. 

TRIBUNJAMBI.COM - Teater Potlot akan mementaskan "Rawa Gambut" di Taman Budaya Jambi pada 13 Oktober 2018 pukul 19.30 WIB. Ini merupakan sebuah Teater dan Realisme Ekologi.

Penulis dan sutradara naskah "Rawa Gambut Teater Potlot", Conie Sema, menuturkan karya itu lahir dari hasil mengumpukan banyak teks di kawasan gambut Pesisir Pantai Timur Sumatera, tepatnya di beberapa titik kawasan yang mengalami konflik lingkungan dan budaya di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Ada kajian ilmiah menyangkut degradasi lahan gambut, kebakaran, serta berbagai opsi lansekap berkelanjutan di kawasan tersebut.

Menariknya, pementasan Conie juga menyusun peta-peta kecil peninggalan sejarah dan jejak penandaan Sriwijaya, melalui artefak dan situs yang berhamburan di sekitar lokasi perkebunan sawit dan HTI akasia.

"Kami juga mengamati kebijakan pemerintah usai kebakaran besar lahan gambut tahun 2015 lalu. Memantau langkah-langkah pemerintah melalui program restorasi gambut yang dikerjakan BRG (Badan Restorasi Gambut), sebuah badan bertanggungjawab langsung kepada Presiden Joko Widodo," tuturnya dalam rilis yang diterima tribunjambi.com.

Apa kepentingan Teater Potlot, sebagai kelompok yang bergerak di seni budaya terhadap restorasi gambut tersebut?

Tentu saja berkaitan kepentingan budaya dan ekologi. Fokusnya pada pengelolaan bentang alam. Realitas pengelolaan sumberdaya alam dari konversi hutan dan lahan gambut saat ini, cenderung berpihak kepada investasi dan keuntungan ekonomi semata.

Gerakan budaya dalam memantau pengelolaan bentang alam di negeri ini, setidaknya sebagai simbol mengaktualisasikan spirit ekologi dari Prasasti Talang Tuwo yang ditulis Raja Sriwijaya, Dapunta Hyang, pada 684 Masehi, saat mendirikan Taman Sriksetra.

Dalam pementasan itu, Conie mencoba mensimulasikan kenyataan tersebut dengan berbagai bentuk pengucapan teater yang mempertimbangkan banyak hal dalam mewujudkan nilai-nilai yang hendak disampaikan ke dalam realitas pentas. Kemudian memfokuskan fakta sosial dan nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari yang direfleksikan menjadi pesan-pesan moral yang estetik.

"Saya menggiring penafsiran aktor serta playing space realisme yang dimainkan guna merangsang kesadaran intelektualnya (Theatre of Intelligent)," ujarnya.

Teks Rawa Gambut ini menjadi kumpulan fragmen seperti pecahan artefak masa lalu, yang mungkin menjadi tata replika masa depan. Mungkin dalam makna simbolik akan menjadi rupa tiga dimensi yang verbal. Atau sebaliknya, menjadi sosok yang absurd bisa dihidupkan, atau bisa juga dimatikan dalam bahasa estetik.

Penasaran bagaimana pementasan itu nanti? Datang dan saksikan di Taman Budaya Jambi pada Sabtu (13/10/2018) pukul 19.30 WIB.

Baca: Update CPNS 2018 - Tips Bagi Pelamar yang Tak Temukan Program Studi di sscn.bkn.go.id

Baca: Update CPNS 2018 - Ada Perubahan Jadwal Ujian dan Seleksi Administrasi, Catat Tanggalnya!

Baca: MAXI Yamaha Sport Expo 2018, Hadirkan Produk Unggulan dan Promo Menarik 11-14 Oktober 2018

Editor: duanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved