Sejarah Indonesia

Walau Marah dan Kesal, Soekarno Tetap Harus Mengalah Pada Soeharto Pada Tragedi G 30S PKI

Pada 1 Oktober 1965, ketika di Jakarta sedang dalam kondisi mencekam terkait aksi G30S, sekitar pukul 09.00 WIB

Walau Marah dan Kesal, Soekarno Tetap Harus Mengalah Pada Soeharto Pada Tragedi G 30S PKI
Jenderal Soeharto (kiri) dilantik menjadi anggota Kabinet Indonesia oleh Presiden Soekarno, 29 Juli 1966. | Kompas.com 

Tidak berapa lama kemudian datang Sumirat, melaporkan bahwa semua Panglima Angkatan sudah dihubungi dan menyatakan siap menghadap Bung Karno kecuali Pangdam V Jaya Umar Wirahadikusuma.

Saat ditemui Sumirat, Warahadikusuma sedang di markas Kostrad Jalan Merdeka Timur dan bersama Pangkostrad Mayjen Soeharto.

Soeharto ternyata melarang Wirahadikusuma menghadap Bung Karno. Waktu itu bilang, “Sampaikan kepada Bapak Presiden, mohon maaf Pangdam V Jaya tidak dapat menghadap dan karena saat ini Panglima AD (Achmad Yani) tidak ada di tempat, harap semua instruksi untuk AD disampaikan melalui saya, Panglima Kostrad.”

Ketika mendengar pelarangan Pangdam V Jaya tidak boleh menghadap Bung Karno karena atas perintah Soeharto, Bung Karno tampak tidak senang.

Baca: Dipenjara Karena Ingin Bunuh Soekarno, Pilot AURI ini pun Bebas di Era Presiden Soeharto

Meskipun secara garis komando, ketika KASAD tidak ada di tempat, Pangkostrad secara otomatis boleh mengambil alih garis komando tapi perintah Presiden sebagai Panglima Tertinggi tetap harus dipatuhi.

Para Panglima Angkatan yang hari itu hadir menghadap Bung Karno antara lain Marsekal Oemar Dhani, Laksamana Martadinata, Jenderal Sutjipto Judodihardjo, Jenderal Sutardhio, Leimena, dan Brigjen Sabur.

Ketika para Panglima Angkatan yang menghadap Bung Karno kemudian mulai membahas peristiwa yang sedang terjadi pada 1 Oktober 1945, para perwira menengah pengiring para Panglima Angkatan itu ada yang duduk-duduk di rerumputan sambil mengobrol, ada yang main catur, dan ada juga yang sibuk mendengarkan siaran RRI lewat radio transistor.

Jika diamati suasana di sekitar rumah dinas Komodor Udara Susanto malah tampak santai dan sama sekali tidak mencerminkan suasana ketegangan.

Baca: Gebrakan Meja Benny Moerdani di Belanda saat Dampingi Soeharto yang Bikin Gentar Tuan Rumah

Tapi suasana betul-betul berubah tegang ketika tepat pukul 12.00 WIB dari radio transmitter yang dipinjamkan oleh Komodor Susanto terdengar pengumuman Letkol Untung, salah satu dalang dari aksi G30S, mengenai Dewan Revolusi dan pembubaran kabinet.

Itu berarti telah terjadi kudeta. Brigjen Sabur pun segera mengangkat radio transmitter itu dan membawanya ke hadapan Presiden Soekarno.

Halaman
123
Editor: ekoprasetyo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved