Kelompok Ibu PKK Ini Manfaatkan Limbah Sawit Menjadi Kerajinan Seni

Kreativitas kelompok ibu-ibu PKK Kecamatan Bahar Selatan yang memanfaatkan sampah menjadi seni kerajinan perlu diapresiasi.

Kelompok Ibu PKK Ini Manfaatkan Limbah Sawit Menjadi Kerajinan Seni
Tribun Jambi/Samsul Bahri
Kelompok ibu PKK Kecamatan Bahar Selatan yang mengubah limbah sawit menjadi kerajinan seni. 

Laporan Wartawan Tribun Jambi Samsul Bahri

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI- Kreativitas kelompok ibu-ibu PKK Kecamatan Bahar Selatan yang memanfaatkan sampah menjadi seni kerajinan perlu diapresiasi.

Sampah pelepah kelapa sawit di Kecamatan Bahar Selatan cukup melimpah. Selama ini, hanya di bakar. Namun, di tangan kelompok ibu PKK, sampah tersebut dimanfaatkan menjadi sesuatu bernilai seni.

Anggota kelompok PKK Kecamatan Bahar Selatan, Khosiah mengatakan bahwa ide kratif ini berawal dari pemikiran dari kelompok PKK yang melihat banyaknya potensi pohon kelapa sawit yang bisa dimanfaatkan.

"Jadi di Bahar Selatan banyak perkebunan kelapa sawit. Yang biasanya diambil kan itu buah tandan sawitnya, sedangkan lainnya tidak dimanfaatkan, itu lah ide kita bagaimana memanfaatkan apa yang ada di pohon sawit sehingga menjadi suatu barang yang bernilai," ujarnya belum lama ini, saat acara Gerakan Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Mandiri (GP3M) dan Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan (PKHP) di Disdikbud Kabupaten Muarojambi, Rabu (29/8).

Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa yang dimanfaatkan dalam pembuatan kerajinan berupa hiasan atau pajangan ini adalah pelepah kelapa sawit, cangkang buah sawit, dan pakis sawit. Pembuatanya pun tidak begitu rumit, mulai dari penyediaan bahan hingga menjadi kerajinan yang cantik.

"Kita kumpulkan dari pelepah sawit, cangkang buah sawit dan pakis sawit. Semuanya kita bersihkan dan kemudian kita keringkan. Sudah kering langsung kita pernis atau plitur," jelasnya.

Untuk mempercantik tampilan ditambahkan serbuk kayu dan karung goni bekas.

"Kemudian kita bentuk menjadi sebuah pajangan. Semua bahan yang kita gunakan adalah bahan-bahan yang memang mudah didapat, karena tidak terpakai lagi. Satu pajangan bisa memakan waktu paling lama itu 3 hari, 1 hari juga bisa, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan," kata Khosiah.

Untuk harga, satu buah pajangan dibanderol antara Rp 80 ribu sampai Rp 250 ribu. Semuanya tergantung ukuran dan kesulitan dalam pembuatan. 

"Kita sering ikut event dan pameran-pameran, tapi memang untuk pemasaran kita kesulitan, karena kita juga jauh dan saat ini masih kita upayakan agar mendapatkan dorongan penuh dari Pemkab Muarojambi, sehingga secara promosi atau pemasaran produk kita bisa lebih dikenal," terangnya.

Penulis: syamsul
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help